Jagalah Dirimu & Keluargamu dari Api Neraka

Jagalah Dirimu & Keluargamu dari Api Neraka


Oleh : Ustadzah Weta Nur Rohmah, S.Kom

Tradisi mudik saat menjelang lebaran menjadi bumbu dari perayaan Idul Fitri. Marak di pemberitaan media massa mengenai fenomena arus mudik lebaran mulai dari ratusan pemudik yang rela antre dan menunggu hingga berjam-jam di depan pintu masuk peron sebelum jam keberangkatan, kemacetan lalu lintas serta hiruk-pikuk yang terjadi selama arus mudik berlangsung. Tradisi mudik telah menjadi fenomena sosio-kultural yang dijadikan sebagai momentum untuk berbakti kepada orang tua dan sekaligus memperkokoh silaturrahim.

Sementara itu, memperkuat tali silaturrahim merupakan amal shaleh yang memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Banyak sekali nash, baik dari Al Quran maupun Sunnah, yang memberi motivasi untuk memperkuat silaturrahim dan memberikan ancaman bagi siapa saja yang memutuskan tali silaturrahim.

Namun bagaimana mereka mengisi aktivitas di kampung halaman dengan keluarga sebagai wujud silaturrahim? Sebagian besar mereka saling melepas rindu dengan sekedar makan bersama, saling berbincang namun tidak bernilai dakwah atau pergi ke tempat wisata.

Lantas, bagaimana menjadikan syariat silaturrahim untuk menjalankan syariat Allah yang lain pula, seperti kewajiban berdakwah (menasehati dalam mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran)? Bahkan, silaturrahim seharusnya menjadi kesempatan emas untuk berdakwah kepada karib kerabat / keluarga kita.

Makna Silaturrahim

Silaturrahim (shilah ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah berasal dari washala-yashilu-wasl(an)wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang), digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena orang-orang saling berkasih sayang atas hubungan rahim atau kekerabatan itu. Dalam Al-Quran, kata al-arhâm terdapat pada tujuh ayat, semuanya bermakna rahim atau kerabat.

Dengan demikian, secara bahasa shilah ar-rahim (silaturrahim) artinya adalah hubungan kekerabatan. Sedangkan pengertian secara istilah syar‘i, banyak nash syariat yang memuat kata atau yang berkaitan dengan shilah ar-rahim. Maknanya bersesuaian dengan makna bahasanya, yaitu hubungan kekerabatan.

Kewajiban Silaturrahim

Silaturrahim bukanlah murni adat istiadat, namun ia merupakan bagian dari syariat. Allah memerintahkan agar kita senantiasa menyambung dan menjaga hubungan kekerabatan (shilah ar-rahim). Sebaliknya, syariat melarang untuk memutuskan silaturahim. Abu Ayub al-Anshari menuturkan, “Pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku perbuatan yang akan memasukkan aku ke dalam surga.” Lalu Rasulullah saw. menjawab:

“Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturrahim.” (HR Al-Bukhari).

Hadist ini, meskipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah perintah. Pemberitahuan bahwa perbuatan itu akan mengantarkan pelakunya masuk surga, merupakan qarinah jazim (indikasi yang tegas). Oleh karena itu, menyambung dan menjaga silaturrahim hukumnya wajib dan memutuskannya adalah haram. Rasulullah saw. bersabda: “ Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan (ar-rahim).” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Sekalipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah larangan. ungkapan ‘tidak masuk surga’ juga merupakan qarinah jazim, yang menunjukkan bahwa memutus hubungan kekerabatan (shilah ar-rahim) hukumnya haram.

Allah  juga memerintahkan berbuat baik pada kaum kerabat, sebagaimana firman-Nya,

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman, musafir dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”. (QS. An-Nisa’: 36)

Silaturrahim; Sarana Menasehati dalam Kebenaran dan Menetapi Kesabaran

 “ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. “ (QS. Al Ashr: 1-3)

Silaturrahim bukan hanya diwujudkan dalam bentuk berkunjung ke rumah kerabat atau mengadakan arisan keluarga, namun ia memiliki makna yang lebih dalam dari itu. Silaturrahim memiliki berbagai peran yang harus dilakukan sebagai sarana menasehati dalam mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, di antaranya:

  1. Media Berdakwah

Kerabat mendapatkan prioritas utama untuk didakwahi. Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah saw di awal masa dakwah beliau, “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat”. (QS. Asy-Syu’ara’: 214)

Melalui bahasa yang santun, ingatkanlah kerabat kita yang masih belum menutup aurat, gemar bermaksiat, yang shalatnya masih bolong-bolong, yang belum berpuasa Ramadhan, yang masih enggan mengeluarkan zakat dan yang masih mengerjakan larangan Allah yang lain. Juga yang masih belum menjalankan kewajibannya secara sempurna. Berbagai nasehat tersebut bisa disampaikan kepada yang bersangkutan secara langsung atau bisa pula melalui siraman rohani yang biasa dilakukan saat acara arisan atau pertemuan berkala keluarga. Atau melalui cara-cara lain sesuai kebiasaan yang disenangi keluarga.

Persaudaraan yang dibumbui dengan budaya saling menasehati inilah yang akan ‘abadi’ hingga di akhirat kelak. Adapun persaudaraan yang mengorbankan prinsip ini maka itu hanyalah persaudaraan semu, yang justru di hari akhir nanti akan berbalik menjadi permusuhan. Sebagaimana dikabarkan dalam firman Allah SWT. “Teman-teman karib pada hari itu (hari kiamat) saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertaqwa”. (QS. Az-Zukhruf: 67)

  1. Saling Tolong-Menolong

Orang yang membantu kerabat akan mendapat pahala dobel, pahala sedekah dan pahala silaturrahim. Rasulullah saw bersabda,

“Sedekah terhadap kaum miskin (berpahala) sedekah. Sedangkan sedekah terhadap kaum kerabat (berpahala) dobel; pahala sedekah dan pahala silaturrahim”. (HR.Tirmidzi dari Salman bin ‘Amir )

Berbuat baik terhadap kerabat, selain berpahala besar, juga merupakan sarana manjur untuk mendakwahi mereka. Andaikan kita rajin menyambung silaturrahim, gemar memberi dan berbagi dengan kerabat, selalu menanyakan kondisi dan kabar mereka, menyertai kebahagiaan dan kesedihan mereka, tentu mereka akan berkenan mendengar omongan kita serta menerima nasehat kita, sebab mereka merasakan kasih sayang dan perhatian ekstra kita pada mereka. Di samping itu, ketika Allah Swt menguji keluarga kita dengan perantara berbagai kesulitan. Maka kita harus menguatkan untuk menetapi kesabaran. Sebagaimana firman Allah Swt, “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

  1. Saling memaafkan kesalahan

Dalam kehidupan interaksi sesama kerabat, timbulnya gesekan dan riak-riak kecil antar anggota keluarga merupakan suatu hal yang amat wajar. Sebab manusia merupakan sosok yang tidak lepas dari salah dan khilaf. Namun fenomena itu akan berubah menjadi tidak wajar ketika kesalahan yang muncul akibat kekeliruan tersebut tetap dipelihara dan tidak segera diobati dengan saling memaafkan. Betapa banyak keluarga besar yang terbelah menjadi dua, hanya akibat merasa gengsi untuk memaafkan kesalahan-kesalahan sepele. Padahal karakter pemaaf merupakan salah satu sifat mulia yang amat dianjurkan dalam Islam.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan pedulikan orang-orang jahil”. (QS. Al-A’raf: 199)

Namun ada suatu praktek keliru dalam mengamalkan sifat mulia ini yang perlu diluruskan. yaitu mengkhususkan hari raya Idul Fitri sebagai moment untuk saling memaafkan. Jika minta maaf tidak dilakukan di hari lebaran seakan-akan menjadi tidak sah atau kurang afdhal. Sehingga maraklah acara ‘halal bihalal’ di bulan Syawal. Padahal kita diperintahkan untuk saling memaafkan sepanjang tahun dan tidak menumpuk-numpuk kesalahan setahun penuh, lalu minta maafnya baru di’rapel’ di hari lebaran.

Keyakinan tersebut juga berimbas pada ucapan selamat idhul fitri yang serasa kurang jika tidak dibumbui kalimat “mohon maaf lahir batin”. Padahal dahulu para sahabat Nabi saw manakala saling mengucapkan selamat di hari raya, kalimat yang diucapkan adalah “taqabbalallah minna wa minkum” . Dan kalimat ini jelas lebih sempurna, sebab tidak semata-mata bermuatan ucapan selamat, namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi selamat.

Ajak Kerabat “ Selalu Ingat Tujuan Hidup”

Dan Aku (Allah) tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku ” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Dengan selalu mengingat tujuan hidup, keluarga dan kerabat kita tidak akan mudah terpedaya dengan kenikmatan dunia sehingga melupakan tujuan utama untuk beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai harta dan keluarga menjadikan kita lalai dari mengingat Allah SWT. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al-Munaafiquun: 9)

Menguatkan Tali Silaturrahim; Mengalahkan Godaan Setan

Setan tidak akan pernah puas menggoda umat manusia sampai hari kiamat, dalam bentuk apapun, sehingga kita harus lebih menguatkan keimanan dan ketaqwaan diri kita beserta keluarga kepada Allah SWT. Bahkan, bisa jadi godaan setan itu dilakukan melalui keluarga kita sendiri.

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini (syahwat), yakni wanita wanita, anak anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawa ladang. itulah kesenagan hidup di dunia. dan di sisi Alloh lah tempat kembali yang baik (jannah). Katakanlah “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu untuk orang-orang yang bertaqwa kepada Allah? Pada sisi Robb mereka ada jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan mereka dikaruniai istri-istri yang disucikan serta keridhoan Allah “. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya.” (QS. Ali Imron : 14-15)

Khatimah; Maka Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka..

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Marilah menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka dengan terus meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT. Menjadikan moment silaturrahim sebagai sarana berdakwah kepada mereka. Mendakwahi keluarga dengan cara yang ma’ruf dan penuh hikmah. Mengajak mengerjakan segala kewajiban yang diperintahkan Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Jangan sampai rasa sungkan dan kasih sayang pada keluarga malah menghalangi kita untuk menyampaikan kebenaran kepada sanak kerabat kita.

Wallahu’alam bisshowab