Menjadi Alumni Teladan di Bulan Ramadhan

Rasanya, baru kemarin bulan Ramadan. Tapi, tinggal menghitung beberapa hari lagi kita akan menyambutnya dengan suka cita. Ibarat murid yang sudah lulus dari satu jenjang tertentu, pasti akan menjadi alumni di jenjang tertentu pula. Akankah kita akan menjadi alumni yang hanya sekedar alumni? Atau mau menjadi alumni yang terbaik? Semua kembali pada diri kita masing-masing.

Puasa, merupakan sarana pembinaan dari Allah SWT kepada kaum beriman. Tentu saja, hasil pendidikan 30 hari dalam bulan ramadan takkan menampakkan hasil bila puasa tidak dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Tidak sedikit bahkan, puasa yang nyaris tidak memunculkan dampak apapun dalam diri orang yang melakukannya. Kita semua pasti pernah mendengar sabda Rasulullah, “Berapa banyak orang yang berpuasa tapi ia mendapatkan apapun dalam puasanya kecuali haus dan lapar.” (HR.Bukhari Muslim).

Mari kita bersama-sama memperhatikan beberapa rambu agar kita tidak menjadi orang yang menyia-nyiakan amal ibadah puasa. Apa yang harus kita persiapkan? Apa yang harus kita pahami? Dan apa yang haru skita lakukan?

Pertama, anggaplah Ramadan kali ini adalah kesempatan Ramadan kita terakhir. Kehilangan momentum yang sangat berharga untuk kelanjutan kehidupan setelahnya. Tak ada manusia yang mengetahui batas usia yang Allah berikan. Uwais bin Amir Al Qarni tokoh tabi’in mengatakan, “Wahai penduduk Kufah, hamparkanlah kematian di hadapanmu jika engkau tidur. Dan jadikanlah ia tetap berada di hadapan pandanganmu jika kalian bangun dari tidur.” Umar bin Khattab, yang dijuluki al Faruq atau pembeda antar haq dan batil sampai-sampai dengan tegas mengatakan, “arrahatu lirrijaali, ghaflah”, artinya, istirahat bagi seorang laki-laki (pejuang) adalah kelalaian.” (Adabud dunya wa din, Al-Mawardi,82). Sedangkan Imam  hadits Syu’bah bin hajjaj Al Bashari mengatakan , “Jangan kosongkan waktumu, karena maut mengintaimu.”    

            Kedua, sebisa mungkin isilah Ramadan dengan agenda yang jelas. Cantumkan langkah-langkah aktivitas yang harus dilakukan setiap hari, mulai bangun tidur, membaca dzikir pagi, membaca Al Quran, bekerja, sholat jamaah dan sebagainya (yang positif). Tujuannya agar kita lebih mudah melakukan evaluasi terhadap kuantitas ibadah yang dilakukan. Seperti ungkapan amirul mukminin Umar bin Khattab, “hisablah dirimu sebelum dihisab pada hari kiamat.”

            Ketiga, jauhi sikap menunda-nunda amal ibadah. Berusahalah sekuat tenaga tidak mengorbankan agenda yang kegiatan yang telah disusun. Sekali saja kita mengalah dan mengorbankan agenda tersebut, akan mempengaruhi turunnya semangat untuk melanjutkan langkah mengisi bulan Ramadan. Sikap menunda suatu pekerjaan adalah salah satu factor yang banyak menyebabkan seseorang menjadi surut, lemah, dan tidak konsisten dalam upaya mencapai target yang diinginkan. Sikap ini disebut dengan istilah “taswif”, yakni sikap santai, menunda dan berlambat-lambat dalam melakukan amal-amal shalih.

Keempat, tanamkan sikap untuk tidak mudah tunduk pada perasaan lelah dari mengerjakan amaliyah Ramadan. Para ulama memeringatkan sikap tawadhu’ kadzib, yakni sikap tidak mampu secara pura-pura untuk tidak mengerjakan amal-amal taat.

Inti dari langkah ini adalah mujahadah atau melawan keinginan untuk tidak melakukan amal ketaatan dengan berbagai alas an. Nafsu, tak ubahnya seperti seorang anak yang menyusu pada ibunya. Jika tidak disapih maka anak itu akan sulit menghentikan kebiasaannya menyusu. Artinya, keinginan nafsu yang mengarah pada perbuatan maksiat sebaiknya dilawan dengan mujahadah. Sifat menghentikan nafsu memang sulit. Tetapi, dengan niat yang kuat pasti akan bisa.

Kelima, lakukan muhasabah dan evaluasi harian sebelum tidur terhadap amal yang telah kita lakukan. Munculkan tekad untuk bisa melakukan yang lebih baik di hari esok.  Munculkan perasaan cemas dan harap, apakah puasa kita diterima oleh Allah? Diriwayatkan, Hasan Al Basri pernah melewati suatu kaum yang tengah tertawa-tawa. Kepada mereka hasan berkata, “sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadan sebagai arena perlombaan melakukan ketaatan bagi makhlukNya. Kemudian ada orang yang berlomba hingga menang dan ada pula orang-orang yang tertinggal lalu kecewa. Tetapi yang sangat mengherankan ialah pemain yang tertawa-tawa di saat yang lain memacu kemenangan.”

            Keenam, hindari pekerjaan yang terlalu padat di siang hari. Hal ini sangat wajar, karena bagaimanapun di bulan Ramadan kita memiliki aktivitas yang padat di malam hari dengan berbagai macam ibadah. Terlalu lelah bisa mengakibatkan tubuh malas dan bisikan syetan pun semakin punya alas an untuk melemahkan fisik kita. Hujjatul islam Imam ghazali menasihati kepada kita yang ingin melakukan qiyamullail, agar tidak terlalu lelah di siang hari dan menyempatkan diri beristirahat sejenak menjelang siang 10 sampai 20 menit (qilulah). Rasulullah saw bersabda, “Puas adalah amanah maka hendaklah salah seorang diantara kamu menjaga amanahnya.” (Hadits Hasan)

Ketujuh, putuskan atau kurangi melakukan aktivitas yang bernuansa hiburan, yang tidak memiliki kaitan dengan ibadah di bulan Ramadan. “Puasa itu adalah perisai,” kata Rasulullah. Ia melanjutkan, “Jika salah seorang diantara kamu sedang berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh, jika ada seseorang yang menyerangnya atau mencacinya maka hendaklah ia berkata sesungguhnya aku berpuasa…sesungguhnya aku sedang berpuasa…(HR.Bukhari dan Muslim). Selain itu, pandangan mata, pendengaran telinga, dan segala aktivitas lahir, akan sangat memengaruhi kualitas ibadah dengan amal-amal soleh yang dilakukan.

Kedelapan, sering-sering dan perbanyak bertemu dengan komunitas dan lingkungan yang mengajak kita untuk mengingat Allah. Perbanyak ke masjid, perbanyak berdiskusi dengan rekan-rekan yang mengingatkan pada hal-hal yang bermanfaat. Bertemu dan bergaul dengan orang-orang solih akan memberi suplai semangat dan tenaga baru dalam jiwa kita untuk melakukan ketaatan. Inilah salah satu kebiasaan para salafu shalih dalam upaya menjaga semangat beribadah diantara mereka. Ibnul Mubarak pernah mengatakan, “Jika aku melihat wajah Fudhail bin Iyadh, biasanya aku menangis.” Ada pula seorang ulama yang mengatakan, “Jika aku merasakan kesesakan hati, maka aku segera pergi dan melihat wajah Muhammad bin Wasi’.” (Nuzhatul Fudhala, 1/526)

Kesembilan, hindari terlalu kenyang ketika berbuka puasa. Ini kondisi yang sangat sering terjadi bagi orang yang berpuasa dan ternyata merusak nilai puasa. Imam Ghazali menyebutkan, tidak ada wadah yang paling dibendi oleh Allah selain perut yang penuh dengan makanan halal. “Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat, jika orang yang puasa itu pada saat berbuka melahap berbagai macam makanan untuk mengganti makanan untuk mengganti makanan yang tidak boleh dimakannya di siang hari?” tulis Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.

            Kesepuluh, tunaikan ibadah sunnah I’tikaf di masjid dalam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Sesungguhnya sepuluh hari terakhir adalah detik-detik perpisahan kita dengan Ramadan yang sangat mulia dan dirindukan. Karenanya, saat itulah kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Senyampang jasad dan hati kita masih hidup, mari kita berlomba-lomba untuk menjadi alumni yang teladan di bulan bulan Ramadan yang akan datang, dan semoga kita masih diberikan umur panjang yang barokah. Amin..
[by Luluk Zumrotul Laili]