LOGIN FORM

Untuk Mengakses Sistem Administrasi & Akademik

SDM Orang Tua

 

Berita

GEBRAKAN ISLAMISASI ILMU

30 Agustus 2014 by Al-Izzah in Artikel Guru, Berita

Mengutip Tulisan Dr Adian Husaini
Jurnal Pemikiran Islam Islamia (Republika-INSISTS), edisi Kamis (18/7/2013), menurunkan sebuah tulisan menarik berjudul “ISLAMISASI, DEWESTERNISASI DAN DEKOLONISASI”, karya Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud. Bagi pecinta dan pemerhati khazanah pemikiran Islam kontemporer, nama penulis tersebut tentu sudah tidak asing lagi.
Tahun lalu, Prof Wan Mohd Nor meluncurkan buku penting berjudul Rihlah Ilmiah: Dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer. Buku ini menggambarkan perjalanan intelektualnya, bergurukepada dua ilmuwan besar di abad ke-20 dan ke-21, yaitu Prof. Fazlur Rahman – pelopor gagasan neomodernisme – dan Prof. Naquib al-Attas – pelopor gagasan Islamisasi Ilmu kontemporer. Kini, bersama sejumlah cendekiawan muslim berkaliber tinggi, ia memimpin sebuah institusi pendidikan tinggi pasca sarjana bernama Center for Advanved Studies on Islam, Science, and Civilization (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia, yang kini menjadi salah satu pusat perkaderan intelektual Muslim dari berbagai dunia.

Dalam artikelnya – yang dikutip dari monograp pidato professorialnya — Prof Wan Mohd Nor menekankan pentingnya kaum Muslim memiliki kepedulian serius terhadap pengembangan institusi pendidikan tinggi. Sebab, institusi inilah yang paling strategis dan arkitektonis menentukan perkembangan suatu bangsa. Mengutip pendapat sejumlah akademisi terkemuka, seperti Clerk Kerr, disebutkan, bangsa-bangsa yang bermaksud meraih pengaruh intenasional seyogyanya mendirikan pusat-pusat studi yang unggul (excellent) pada level tertinggi. (Clerk Kerr, “The Frantic Rush to Remain Contemporary” Deadalus. Journal of the American Academy of Arts and Sciences. Volume 94, No. 4 Fall 1964).

Philip Coombs, mantan Undersecretary of State AS semasa pemerintahan John F Kennedy, menyatakan, bahwa pendidikan dan budaya adalah “aspek keempat” dari politik luar negeri, disamping ekonomi, diplomasi dan aspek militer. Babak Perang Dingin telah meningkatkan kepentingan strategis dari Pendidikan Tinggi. Kini, persenjataan modern lebih bergantung pada ilmu pengetahuan ilmiah dibandingkan dengan hitungan tradisional jumlah tentara dan banyaknya perlengkapan militer. (Philip Coombs, The Fourth Dimension of Foreign Policy: Education and Cultural Affairs (New York: Harper and Row, 1964).

Pada 6 Juli 2013, saat bertindak sebagai keynote speaker dalam Seminar tentang Pendidikan Islam di Jakarta, Prof Wan Mohd Nor juga sudah memberikan penjelasan yang sangat mendasar tentang pentingnya para akademisi Muslim memberikan perhatian yang serius terhadap Pendidikan Tinggi dan terus berusaha melakukan proses Islamisasi terhadap ilmu pengetahuan. Itu bukan berarti mengabaikan pendidikan tingkat dasar dan menengah. Tapi, perlu dicatat, bahwa para guru yang mengajar di pendidikan dasar dan menengah adalah produk dari pendidikan tinggi. Bukankah Nabi Muhammad saw juga sudah mengingatkan, bahwa anak-anak terlahir dalam kondisi fitrahnya. Kedua orang tualah yang mengarahkannya menjadi Majusi, Yahudi, atau Nasrani.
Seminar pendidikan Islam itu diselenggarakan oleh Program Pendidikan Islam Pasca Sarjana UIKA Bogor, bekerjasama dengan Casis-UTM dan AQL-Islamic Center pimpinan KH Bahtiar Nasir. Seminar juga mengambil tema Islamisasi Kurikulum Pendidikan Tinggi.

Pemakalah lain adalah Dr. Nirwan Syafrin (pakar pemikiran Islam, wakil rektor UIKA Bogor), Dr. Wendi Zarman (pakar sains Islam, dosen UNIKOM Bandung), dan Adnin Armas MA (pakar filsafat Islam, direktur eksekutif INSISTS), Dr. Adian Husaini, dan juga KH Bahtiar Nasir, Sekjen Majlis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).
Sebelum seminar di Jakarta tersebut, pada 26 Juni 2013, Prof Wan Mohd Nor menyampaikan pidato profesorialnya yang bersejarah di UTM, berjudul “ISLAMIZATION OF CONTEMPORARY KNOWLEDGE AND THE ROLE OF THE UNIVERSITY IN THE CONTEXT OF DE-WESTERNIZATION AND DECOLONIZATION.” Pidato ini dihadiri oleh lebih dari 550 akademisi dari berbagai negara dan universitas serta disebut-sebut sebagai pidato ilmiah yang paling banyak menarik perhatian dalam sejarah universitas tersebut.

Dalam pidatonya — yang sebagiannya dikutip dalam artikel di Jurnal Islamia INSISTS-Republika tersebut — Prof Wan Mohd Nor menggambarkan fenomena global munculnya kesadaran kritis terhadap dampak buruk peradaban Barat bagi kemanusiaan. Menurutnya, globalisasi Eropa dimulai dengan perjalanan-perjalanan “penemuan” pada akhir abad ke 15. Hal ini diikuti dengan imperialisme, yang dicirikan dengan adanya penaklukan dan pengendalian politik secara langsung dari kota-kota besar Eropa. Sejak abad ke-17 dan seterusnya, imperialisme ini berhasil terwujud berkat kolonisasi – dengan pembentukan komunitas-komunitas imigran di wilayah-wilayah penjajahan, meniru kota-kota besar, dan didukung dengan adanya perbudakan dan buruh kontrak. Itu menghasilkan kolonisasi — sebuah kondisi yang mengacu pada penundukan sistematis bangsa terjajah.
Perkembangan yang saling terkait ini, yang dimungkinkan oleh worldview Eropasentris yang menggambarkan perspektif epistemik tertentu, telah menimbulkan banyak penderitaan dan kerugian politik, ekonomi, serta sosial budaya penduduk asli. Dominasi Barat menjadi lebih intensif – dengan ikut berperannya Amerika Serikat pada pertengahan abad ke 20 dalam bentuk neokolonialisme – terutama melalui konsep modernisasi dan perkembangan, dan kemudian, melalui konsep demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia.

Dijelaskan, bahwa kolonisasi memainkan peran penting dalam konsepsi dan sifat Perguruan Tinggi di semua negara yang baru merdeka. Dalam arti, bahwa meskipun banyak diantaranya yang didirikan sebelum kemerdekaan, namun keberadaan mereka hingga kini – dan pembentukan Perguruan Tinggi-perguruan tinggi yang baru – dibuat untuk melayani kepentingan modernisasi bangsa dan negara baru sesuai dengan pola yang “benar” ala Barat. Perkembangan ekonomi dari Negara-negara “belum berkembang” ini dipaksa untuk mengikuti dengan ketat semua tahapan Rostowian yang memungkinkan modernisasi termasuk penerapan semua lembaga yang memungkinkan pencapaian tersebut di Barat, termasuk perguruan tinggi-perguruan tingginya.

Kesadaran baru

Tapi, sejak era 1970-an, muncullah kesadaran akan dampak buruk westenisasi dan kolonisasi sehingga memunculkan wacana “de-westernisasi” dan dekolonisasi di berbagai belahan dunia. Sejak tahun 1970-an pula, gerakan Ilmu Pengetahuan Pribumi (Indigenous Knowledge Movement), terutama di Amerika Utara, yang berusaha untuk menawarkan satu sistem alternatif bagi pendidikan dan ilmu pengetahuan — selain yang ditawarkan Eropa — menerima penghargaan dan pengakuan internasional. Pada 1990-an, gerakan ini telah menghasilkan wacana dekolonisasi dan memikirkan kembali pendidikan bagi masyarakat pribumi.

Lebih jauh dipaparkan, bahwa adalah penting bagi warga demokrasi liberal Eropa untuk memahami suara-suara alternatif dan bahkan tidak setuju dengan yang lain, yang tidak hanya akan memperlambat roda neo-kolonialisme, tetapi yang lebih penting, akan membuat orang Barat memahami bagaimana mitos superioritas mereka telah merusak diri mereka sendiri. “Mereka mungkin bisa mulai menangani ekses mereka sendiri, mempertanyakan lembaga dan gaya hidup mereka sendiri, sebelum memutuskan pada tindakan yang benar bagi orang lain.” (Peter Cox, “Globalization of What?”, hal. 6.)

Di tengah-tengah gencarnya isu terorisme Islam, Martin Jacques, dalam bukunya, When China Rules the World, justru mengungkapkan, bahwa tantangan yang lebih besar terhadap peradaban Barat pasca Perang Dingin, bukanlah terorisme Islam, tetapi suatu era yang disebutnya sebagai “Era modernitas yang diperdebatkan”. Di antara banyak isu-isu kunci, Jacques berpendapat bahwa ide-ide yang berkaitan dengan makna kemajuan, pengembangan, dan peradaban tidak akan lagi identik dengan Barat.

Seorang pakar Cina kontemporer terkemuka, Huang Ping, dengan percaya diri menekankan perbedaan mendasar antara peradaban Cina dan Barat dan seseorang akan berpendapat bahwa, “Praktek Cina sendiri mampu menghasilkan alternatif konsep, teori, dan framework yang lebih meyakinkan.”

Ulrich Beck, seorang sosiolog di University of Munich dan London School of Economics, dalam sebuah wawancara belum lama ini, berbicara tentang bagaimana kesuksesan besar Modernitas Eropa pertama dari abad ke-18 hingga tahun 1960-an dan 1970-an kini telah menghasilkan konsekuensi yang tak terjawab, seperti perubahan iklim dan krisis keuangan. Dia menambahkan, “Krisis keuangan adalah contoh kemenangan interpretasi spesifik dari modernitas: modernitas neo-liberal setelah keruntuhan sistem komunis, yang menyatakan bahwa pasar adalah solusi dan semakin kita meningkatkan peran pasar , semakin baik. Tapi sekarang kita melihat bahwa model ini jatuh dan kita tidak memiliki jawaban.” Menurutnya, ” …modernitas Eropa adalah proyek bunuh diri … Menciptakan modernitas kembali bisa menjadi tujuan khusus untuk Eropa.”

Demikianlah paparan tentang munculnya berbagai gerakan dewesternisasi dan dekolonisasi dari Prof. Wan Mohd Nor. Paparan ini menyadarkan, bahwa munculnya usaha-usaha dewesternisasi dan dekolonisasi di belahan dunia – termasuk di Negara Barat sendiri – semakin memperkuat logika keabsahan adanya proses Islamisasi dalam bidang keilmuan. Banyak ilmuwan Muslim yang telah menulis tentang dampak buruk konsep keilmuan sekuler Barat terhadap kemanusiaan. Tetapi, sebuah langkah berdasar pada konsep yang sistematis dan mendasar telah dipelopori oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang sejak lama mengingatkan bahwa problem utama umat Islam adalah “problem ilmu pengetahuan” (the problem of knowledge).

Dalam berbagai karyanya, yang dimulai di awal 1970-an, Prof. Naquib al-Attas menjelaskan dasar-dasar perbedaan ontologis, epistemologis, etika dan budaya antara Islam dan Barat sekuler yang dominan. Al-Attas pun telah meluncurkan wacana serius tentang dewesternisasi dan dekolonisasi melalui proyek intelektual Islamisasi pengetahuan kontemporer, yang berpusat di universitas. Menurut al-Attas, Islamisasi adalah: “usaha untuk membebaskan manusia pertama-tamanya dari tradisi magis, mitos, animistik, kultur nasional, lalu membebaskan dari jeratan sekular yang membelenggu akal dan bahasanya. Orang Islam adalah orang yang akal dan bahasanya tidak lagi dikontrol oleh magis, mitos, animisme dan tradisi nasionalisme dan kulturalnya. Inilah perbedaan antara Islam dan sekularisme.”

Menurut Prof. Wan Mohd Nor, tujuan akhir dari dewesternisasi, dekolonisasi, dan Islamisasi pengetahuan dan pendidikan kontemporer harus benar-benar difokuskan pada pembentukan manusia yang tepat yang akan melakukan berbagai peran dalam masyarakat. Proyek dekolonisasi, de-westernisasi, dan Islamisasi bukan sekedar reaksi untuk kondisi eksternal yang tidak Islami belaka, tetapi yang lebih penting, dan mendasar, adalah kembali kepada tujuan dan sifat asli manusia yang membawa manusia ke tujuan penerimaan dan penyebaran pengetahuan dan makna serta tujuan pendidikan, yakni terbentuknya manusia yang baik, manusia yang beradab.

Penjelasan pakar pendidikan Islam internasional ini sangat penting untuk kita renungkan dalam rangka mengevaluasi dan terus memperkuat gerakaaan Islamisasi ilmu dan juga lembaga-lembaga pendidikan. Seperti ditegaskan Prof Wan Mohd Nor, di saat westernisasi dan kolonisasi dalam berbagai bentuknya masih berpengaruh dalam konteks globalisasi saat ini, upaya sejumlah ilmuwan Muslim untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, bukan hanya usaha yang sah untuk mempertahankan identitas agama dan budaya mereka, tetapi juga usaha untuk menawarkan alternatif yang lebih baik dari modernitas Barat, yang telah menunjukkan defisit yang serius pada level global.

Fakta menunjukkan, defisit modernitas Barat itu telah melintasi batas-batas agama, budaya, dan batas-batas negara, sehingga banyak ilmuwan non-muslim dan pembuat kebijakan di berbagai tempat menyampaikan hujjah tentang perlunya melakukan usaha de-westernisasi, dekolonialisasi, dan pribumisasi dari framework ilmu pengetahuan. De-westernisasi dan Islamisasi ilmu kontemporer – dalam keterkaitannya dengan konsep universitas Islam dan adab – adalah salah satu dari usaha-usaha ini. Bahkan, dibandingkan dengan gerakan sejenis, Islamisasi ilmu kontemporer, lebih bersifat spiritual, komprehensif, universal dan lebih kuat pengaruhnya.

Penegasan Prof. Wan Mohd Nor tentang nilai strategis gerakan Islamisasi ilmu ini bisa kita jadikan sebagai bahan evaluasi proses gerakan Islamisasi ilmu yang telah dan sedang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam, mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Kita perlu menekankan dan mengingat terus, bahwa hakekat dan tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencetak manusia yang baik, seperti ditegaskan oleh Prof. Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam and Secularism: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”

Manusia diciptakan Allah dalam kondisi dan potensi yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Dalam kaitan inilah, kita perlu memahami dan mengimplementasikan konsep keunikan manusia, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw: “Manusia itu adalah barang tambang, laksana emas dan perak. Orang-orang terbaik diantara mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang terbaik juga di masa Islam, apabila mereka faqih fid-ddin.” (Muttafaq ‘alaih).

Manusia-manusia yang ingin kita hasilkan dari lembaga pendidikan kita adalah manusia yang baik, manusia yang bermanfaat untuk manusia. Godaan syahwat materialisme dan hedonisme telah banyak menggoda lembaga pendidikan untuk terjun ke pusaran pragmatisme di bidang pendidikan, khususnya di perguruan tinggi. Kekeliruan dan ketidaktahuan konsep ilmu dalam Islam telah menjerat banyak potensi-potensi unggul kaum Muslim ke pusaran pragmatisme, tanpa sadar melupakan amanah keilmuan dan keulamaan yang wajib diemban oleh ummat Rasulullah saw. Kita melihat, kini, tak sedikit sarjana-sarjana pintar yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan, tanpa terpikir lagi untuk meningkatkan keilmuan fardhu ain dan fardhu kifayahnya. Tidak sedikit yang kemudian terjebak ke dalam kubangan kehidupan materialisme, dengan melupakan tujuan hidup dan kewajibannya sebagai umat pengemban dakwah Islam, mewujudkan misi rahmatan lil-alamin.

Itulah perlunya Islamisasi ilmu, yang tujuan finalnya adalah untuk melahirkan manusia-manusia yang beradab tinggi, manusia yang mampu mengemban amanah khalifatullah dan amanah risalah kenabian. Apa yang dipaparkan oleh Prof Wan Mohd Nor kita jadikan sebagai bahan nutrisi tambahan untuk meningkatkan stamina kita dalam melakukan proses Islamisasi yang tiada kenal henti. Sebab, tantangan intenal dan eksternal pun terus menghadang. Wallahu a’lam bish-shawab. (Doha, Qatar, 14 Ramadhan 1434 H/23 Juli 2013).
[Dr Adian Husaini - adianhusaini.com].

Emansipasi Wanita Adakah Dalam Islam ?

30 Agustus 2014 by Al-Izzah in Artikel Guru, Berita

Gelombang Emansipasi yang ditiupkan oleh Barat pada awal abad 20 ini mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan wanita Islam. Dikemas dalam bentuk yang amat menarik, hingga mampu menyeret kaum Hawa untuk terjun ke bidang yang selama ini diisi oleh lelaki. Tak heran apabila sekarang banyak dijumpai wanita di jalan-jalan, lapangan sepak bola, berdesakan dalam bis kota, kereta api bahkan sampai luar angkasa sekalipun. Tidak ada bidang yang tidak dimasuki oleh para wanita saat ini. Ditunjukkan bahwa posisi wanita harus setara dengan lelaki bahkan kalau mungkin melebihi. Sebenarnya mereka tidak sadar hanyut dalam kehidupan peradaban modern yang semu dan melalaikan. Sebagian besar berbangga hati dengan gerakan emansipasi wanita. disebutnya persamaan hak antara lelaki dan wanita sekarang merupakan produk serta indikator kemajuan.

Gerakan emansipasi yang dipelopori Barat menganggap bahwa pembagian manusia menjadi dua golongan laki-laki dan wanita dalam peranan sosial adalah suatu tindakan yang tidak adil.Selama ini mereka mempunyai hak dan dirampas oleh lelaki. Atau dengan kata lain bukan kodrat seorang wanita apabila harus menekuni tugas-tugas keibuan di rumah, mengasuh anak, menyusui dan membesarkan, tetapi hal itu merupakan politik bagi kaum lelaki untuk menindas wanita. Pekerjaan keibuan di rumah bukan berarti merupakan tanggung jawab wanita, bisa saja kaum lelaki yang mengerjakan. Juga pekerjaan berkarier di luar bukan semata-mata milik kaum lelaki tetapi kaum wanita juga berhak untuk mengerjakan.

Itulah awal wanita kehilangan cintanya pada rumah. Mereka berduyun-duyun memasuki tugas-tugas yang selama ini  di geluti oleh pria. Hatinya telah terpaut pada instansi-instansi, kantor, pabrik, dan kertas-kertas yang tak bernyawa. Sulit membedakan tugas dan fungsi lelaki dan wanita. Rumah tak lain hanya sebagai pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Hubungan antar anggota keluarga satu dengan lain menjadi tidak hangat. Bapak sibuk mencari nafkah, demikian pula ibu pun tak mau kalah dengan alasan meningkatkan kesejateraan keluarga atau untuk mengaktialisasikan diri ke tengah masyarakat. Akibatnya anak-anak sedari kecil hingga beranjak dewasa kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tua khususnya ibu. Para ibu akan lebih bangga apabila berhasil menjadi seorang wanita karier yang sukses ketimbang menjadi ibu rumah sukses yang mampu mendidik anak-anak dengan tuntunan akhlaq yang baik, melayani suami, serta mendorong karier suami.

Corong pertama yang menyuarakan gerakan emansipasi wanita adalah Barat kini sedang berusaha dengan giat meng’eksport’ ke negara-negara Timur Tengah atau negara-negara dengan berpenduduk mayoritas muslim. Barat menilai bahwa ajaran Islam telah ‘memperkosa’ hak-hak wanita. Islam tidak memberi kebebasan pada wanita untuk berkreasi dan berkarier di luar rumah. Ajaran Islam memasung keberadaan wanita hanya di dalam rumah. Ironisnya pemikiran-pemikiran tentang emansipasi yang dipelopori oleh gerakan feminisme sedikit banyak merasuki kalangan wanita Islam itu sendiri. Banyak tokoh-tokoh wanita dari negara-negara muslim justru merasa terpasung dengan ajaran Islam yang dianutnya. Sehingga banyak yang melontarkan ide-ide yang ‘nyeleneh’ tentang wanita dalam ajaran islam. Bahkan ada yang jelas-jelas mengatakan bahwa Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW harus mengalami revisi sehubungan penempatan posisi wanita dalam Islam. Na’udzu billahi min dzalik. Contohnya adalah Taslima Nasreem seorang tokoh feminisme radikal yang berasal dari Bangladesh dan dianggap figur ideal bagi Barat dalam upayanya menyuarakan ide deislamisasi.

Apakah benar apa yang di suarakan Barat lewat gerakan emansipasinya? Kalau diperhatikan secara seksama, negara-negara Barat yang kerap menyuarakan gerakan emansipasi acap kali memetik buah yang pahit. Banyak isyu-isyu yang berkembang mulai dari kasus pelecehan seksual terhadap wanita yang bekerja, kenakalan remaja akibat kurang kasih sayang kedua orang tua, meningkatnya angka perceraian sampai pada kecemasan menurunnya angka kelahiran yang disebabkan kecilnya angka wanita yang melahirkan. Atau dengan kata lain banyak wanita yang tidak mau repot punya anak sampai menunda usia perkawinan.  Dari laporan majalah Time disebutkan bahwa pada tahun 1950-an 9 % wanita ( Amerika ) berusia produktif ternyata tak memilliku seorang anakpun. Malah sekarang tahun 1980-1990-an 25 % dari wanita pekerja berlatar belakang perguruan tinggi dan berusia 35-45 tahun tidak memiliki anak. Jika saudara-saudara mereka yang lebih muda (25-35 tahun) juga tidak mau melahirkan, maka persentase wanita yang tidak mau melahirkan di Amerika luar biasa tingginya. Gerakan emanipasi bukan melahirkan suatu tatanan kehidupan yang harmonis justru yang di dapat adalah limbah yang amat kotor dan beracun.

Ternyata apa yang selama ini ditempuh oleh kebanyakan wanita di dunia dengan mengikuti arus emansipasi Barat ternyata bukan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita namun justru sebaliknya. Islam lah yang justru menenmpatkan wanita sesuai dengan porsinya, tidak menghinakan dan tidak pula mendewakan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Wanita menurut Islam adalah makhluk yang mulia dan mempunyai tugas, fungsi dan peranan menurut kodratnya. Benarkah Islam begitu menghalangi aktifitas wanita berkiprah di luar ? Tidakkah ada kesempatan bagi musilimah untuk mengaktualisasikan dirinya ? Islam, dien yang musyamil  telah menempatkan peran muslimah dalam  ummat ini

1. Sebagai ibu

Sejarah tidak pernah mengenal adanya agama atau sistem yang menghargai keberadaan wanita sebagai ibu yang lebih mulia dari pada Islam. Islam menjadikan berbuat kebaikan kepada wanita termasuk sendi-sendi kemuliaan, sebagaimana telah menjadikan hak seorang ibu lebih kuat daripadaa hak seorang bapak.Karena beban yang dirasakan amat berat ketika hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Sebagaimana firman Allah SWT :”Dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku , hanya kepada Kulah kembalimu.” (Luqman 14)

“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga pulu bulanan ….” (AlAhqaf 15)

Peran muslimah amat menentukan bagi kualitas generasi muslim yang tangguh. Pada saat Rasulullah SAW ditanya siapa yang paling patut dihormati dan dimuliakan, maka Rasulullah SAW menjwab “Ibumu”. Hal itu di ulang tiga kali, sebelum akhirnya beliau menjawab “bapak” mu. Peran ibu bagi seorang anak tak hanya sebatas melahirkan dan mengasuhnya, tetapi lebih dari itu perkembangan iman, psikologo, intelektual, sosial dan fisik amat ditentukanoleh ibunya. Dan ini menuntut ketrampilan bagaimana menjadi ibu yang baik. Keberadaan ibu yang telah diperhatikan oleh Islam denagan sepenuh perhatian ini dan yang telah diberikan untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan merka dari kerendahan.

2. Sebagai isteri

Sebagian agama dan sistem menganggap bahwa wanita sebagai barang najis atau sesuatau yang m menjijikkan, sebagian yang lain mengnggap bahwa kedudukan isteri sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya dan menjadikan pelayan dalam rumah tangganya. Islam datang untuk mensyiarkan bahwa kedudukan isteri adalah pelakasanaan hak-hak suami isteri sebagai jihad di jalan Allah SWT. Islam juga menjadikan isteri yang shalihah merupakan kekayaan yang paling berharga bagi suami setelah beriman kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : ” Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertakwa kepada Allah azza wa jalla yang lebih baik setelah isteri yang shalihah, jika suami menyuruhnya ia taat, jika dipandang ia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya ia mengiyakan, dan jika suami pergi jauh maka dia memelihara diri dan harta suaminya ” (HR.Ibnu Majah) Rasulullah SAW bersabda ,” Demi Rabb yang menguasai diriku, seorang wanita belum melakasanakan hak Rabbnya sebelum memenuhi hak suaminya “. (HR.Ibnu Hibban). Dalam Hadist  Rasulullah SAW bersabda, ” Andai saja aku dapat menyuruh seseorangbersujud pada manusia, niscaya aku perintahkan wanita sujud pada suaminya”. (HR.At-Turmudzi). Melayani suami merupakan prioritas utama bagi seorang isteri. Tak hanya waktu yang disediakan, tapi juga kualitas pelayanan dan ketekunan yang menakjubkan.

3. Sebagai anak

Bangsa Arab jahiliyyah pesimis dengan kelahiran anak-anak wanita dan mereka merasa hina . Sehingga ada tradisi yang memperbolehkan seorang ayah untuk mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut miskin dan menganggap aib di mata kaumnya. Islam datangdengan menganggap anak wanita seperti anak lelaki yaiti merupakan pemberian dan karunia Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya Allah befirman: “Kepunyaan Allah kerajaan di langit danbumi. Dia menciptakan apa saja yang ia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa saja yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki danperempuan (kepada yang Dia kehendaki), dan Dia menjadikan mandul kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia MAha Menegetahui lagi Maha Kuasa .” ( Asy-Syuara:49-50)

4. Berperan dalam masyarakat. Tersebar di kalangan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam bahwa Islam telah memenjarakan  wanita dalam rumah tidak boleh keluar . pakah demikan ajaran Islam. Tidak…sama sekali tidak, karena al Qur’an sebagai sandaran utama muslim menjadikan laki-laki dan wanita partner dan memiliki tanggung jawab yang terbesar dalam kehidupan, yaitu beramar ma’ruf dan nahi munkar. Allah SWT berfirman : ” Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereke menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan  Rasulnya….”(At Taubah 71). Apabila kita mempelajari shiroh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, banyak ditemui kiprah shahabiyah dalam dakwah dan memajukan Islam. Seperti Ummu Athiyah sebagai perawat dalam peperangan Rasulullah SAW, Ummu “Imarah pernah teruji dalam perang Uhud dan pada waktu pperangan dengan Musailammah Al Kadzhab ia kembali dengan sepuluh luka di tubuhnya.

Jika di suatu masa wanita telah terkungkung jauh dari ilmu pengetahuan dan dijauhkan dari kancah kehidupan, dibiarkan terus menerus tinggal di dalam rumah, tidak diberi kesempatan untuk belajar, maka dasarnya adalah kebodohan serta penyimpangan dari petunjuk Islam. Sesungguhnya tabiat Islam adalah tawazzun dan adil dalam segala aturannya serta segala seruannya, berupa hukum-hukum dan tata cara kehidupan. Islam tidak membesar-besarkan sesuatu dantiddak berlebihan terhadap yang lain. Oleh karena itu . Islam tidak memanjakan wanita dan tidak memperturutkan keinginan-keeinginan wanita  lebih di atas risalahnya. Sikap Islam terhadap wanita adalah :

a. Islam memelihara tabiat kodrati wanita yang telah diciptakan Allah SWT. Islam memelihara wanita dari cengkeraman orang-orang yang buas dan menginginkan secara haram. Memelihara wanita untuk dijadikan alat pengeruk keuntungan yang haram.

b. Islam menghormatitugas wanita yang mulia sesuai dengan fitrahnya. Diberikan kelebihan wanita daripada pria dalam perasaannya, yaitu rasa kasih sayangnya untuk menunaikan risalah keibuan.

c. Islam mengangap bahwa rumah sebagai kerajaan besar bagi wanita. Di sini wanita sebagai pengelolanya, ia sebagai isteri bagi suaminya, partner hidup, pelipur lara dan ibu bagi anak-anaknya. Sesungguhnya setipa alliran yang ingin mencabut wanita dari kerajaannya atas nama kebebabsan dan lain sebagainya, sebenarnya merupakan musuh bagi waita yang merampas segala sesuatu yang ada padanya.

Islam ingin membangun keluarga yang bahagia merupakan azas masyarakat yang bahagia pula. Keutuhan rumah tangga ditentukan dari kepercayaan antara suami dan isteri, bukan atas keraguan.

e. Islam mengizinkan kepada wanita untuk bekerja di luar rumah sepanjang pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan tabiatnya, spesialisainya dan kemampuannya serta tidaak menghilangkan naluri kewanitannya. Maka kerjanya diperbolehkan  selama dalam batas-batas dan persyaratan yang ada. Terutama jika keluarganya atau dia sendiri membutuhkan bekerja di luar rumah atau masyarakat memerlukan kerja khusus.

Sebenarnya tugas wanita yang pertama dan utama dan tidak ada pertentangan di dalamnya adalah mendidik generasi yang telah di persiapkan oleh Allah SWT. Tetapi bukan berati profesi di luar rumah di haramkan oleh Islam, karena kadang masyarakat sendiri menuntut kiprah wanita dalam rangka memajukan ummat ini. Apabila memperbolehkan wanita bekerja, maka wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu :

1. Pekerjaanya itu halal dan bukan pekerjaan yang haram, atau secara pasti mendukung tersebarnya sesuatu yang haram. Seperti bekerja sebagai sekertaris yang mengaharuskan berkhalwat dengan direkturnya, penarii yang mengundang syahwat, menjual barang haram seperti bir walaupun tidak ikut meminunya,

2.Pekerjaan itu tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaann

3. Memenuhi adab wanita muslim ketika keluar rumah. Seperti dalam berpakaian harus menutup seluruh auratnya, menghindari khalwah (berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya), berbicara tidak berlebihan, menghindari ikhtilath (Perbauran antara wanita dan pria), selalu menjaga pandangan (tawadhu’) dan melakukan gerak-gerik yang dappat menimbulkan syahwat lelaki.

4. Tetap menjaga hukum-hukum Islam sedapat mungkin dan berhati-hati agar tidak terjerembab pada jebakan-jebakan syaiton 5. Penebar dan penyebar nilai-nilai Islam.

Yang dituntut oleh masyarakt Islami adalah mengatur segala persoalan dan mempersiapkan sarana sehingga  wanita dapat bekerja apabila membawa kemaslahata bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya tanpa menghilangkan rasa malu atau bertentangan dengan kewajiban terhadap Rabbnya, dirinya, dan rumahnya.

Wallahu’alam bishowab

Daftar  Pustaka
1. Al Qur’anul Karim
2. Sistem masyarakat Islam dalam Al Qur’an dan sunnah, Dr Yusuf Qordhowi.
3. Majalah Ummi  No.8/VIII Tahun 1417 H/1996

Berdasarkan Penelitian Antibiotik Berkaitan dengan Risiko Kematian Jantung

29 Agustus 2014 by Al-Izzah in Berita

Penggunaan klaritromisin dikaitkan dengan risiko 76% lebih tinggi dari kematian jantung, dibandingkan dengan penggunaan penisilin V.

PENELITI Denmark melaporkan hubungan antara antibiotik yang umum digunakan dan risiko kematian akibat jantung, namun pengamat mendesak berhati-hati dalam menafsirkan hasil.

Dalam studi yang dipublikasikan secara online oleh jurnal medis Inggris The BMJ dan The Star Online belum lama ini, tim peneliti mengatakan, penggunaan klaritromisin dikaitkan dengan risiko 76% lebih tinggi dari kematian jantung, dibandingkan dengan penggunaan penisilin V.

“Perbedaan risiko absolut adalah 37 kematian jantung per 1 juta program dengan klaritromisin,” menurut laporan peneliti dari Departemen Epidemiologi Statens Serum Institute di Copenhagen. Risiko berhenti ketika pengobatan berakhir.

Klaritromisin diresepkan untuk jutaan orang setiap tahun, untuk mengobati infeksi bakteri seperti pneumonia, bronkitis, dan beberapa infeksi kulit.

Tim itu menganalisis data lebih dari lima juta program antibiotik yang diberikan kepada orang dewasa Denmark berusia 40-74 pada periode 1997 sampai 2011. Lebih dari 160.000 telah menerima klaritromisin, 590.000 roxithromycin, dan 4,4 juta penisilin V.

Klaritromisin dan roxithromycin adalah makrolida atau antibiotik yang mempengaruhi aktivitas listrik otot jantung dan diduga meningkatkan risiko masalah irama jantung yang fatal, kata peneliti. Tidak ada peningkatan risiko diamati dengan roxithromycin.

Sementara peningkatan mutlak resiko dengan klaritromisin kecil, tim mengatakan, itu adalah “salah satu antibiotik yang lebih umum digunakan di banyak negara, tetapi jumlah akibat kematian jantung mungkin tidak dapat diabaikan”.

Para peneliti menyerukan temuan mereka dikonfirmasi lebih lanjut dalam studi, walaupun sejumlah ahli lain menunjukkan bahwa studi ini tidak menjamin penghentian penggunaan klaritromisin.

Ada kekurangan di dalam laporan penelitian itu, termasuk para peneliti tidak memiliki data apakah pasien perokok atau memiliki obesitas  –yang dapat menjelaskan beberapa perbedaan dalam tingkat kematian, kata Kevin McConway, seorang profesor statistik diterapan pada Universitas Terbuka.

“Karena tingkat kematian jantung pada obat ini sangat kecil, ini bukan risiko yang mengkhawatirkan,” tulisnya yang dipublikasikan oleh Science Media Centre.

Mike Knapton dari Yayasan Jantung Inggris mengatakan, para dokter memang selalu berhati-hati ketika meresepkan klaritromisin untuk pasien dengan sindrom jantung tertentu. “Intinya adalah, jangan menggunakan antibiotik kecuali pasian harus menggunakannya dan dokter telah pertimbangan dengan cermat sebelum meresepkan untuk pasien,” katanya.*

PELANTIKAN OSIS DAN MPK SMA AL-IZZAH IIBS

26 Agustus 2014 by Al-Izzah in Berita, kegiatan siswa

Organisasi Santri atau biasa disebut Organtri adalah organisasi yang terdiri dari seluruh santri kelas 8 SMP AL-Izzah. 15 orang di antara mereka dipilih dan diberi amanah yang lebih berat dengan sebutan Dewan Pengurus Organtri. Di awal tahun ajaran baru, akan diadakan pelantikan atau serah terima jabatan dari Dewan Pengurus Organtri yang sudah naik ke kelas sembilan kepada Dewan Pengurus Organtri kelas delapan yang baru saja terbentuk.

Pelantikan Dewan Pengurus Organtri periode 2014-2015 berlangsung pada hari Senin 18 Agustus 2014. Agar acara pelantikan berlangsung dengan lancar, seluruh dewan pengurus organtri periode 2013-2014 dan 2014-2015 melakukan persiapan berupa latihan Baris berbaris sejak Jum’at Malam (15/08/14). Awalnya baris berbaris yang dilakukan sangat kacau. Namun seluruh Dewan Pengurus Organtri melakukannya dengan terus menerus tanpa mengenal lelah, tentunya dengan bimbingan kakak OSIS yang lebih berpengalaman.

Seperti biasa, kegiatan pembelajaran pada hari Senin diawali dengan apel pagi. Apel berakhir sekitar pukul 07.30 WIB, dan dilanjutkan dengan serah terima jabatan OSIS dan MPK 2014-2015 yang disusul oleh serah terima jabatan Dewan Pengurus Organtri 2014-2015. Dengan perasaan yang sedikit “deg… deg…an” Dewan Pengurus Organtri 2013-2014 dan 2014-2015 melakukan pelantikan dengan penuh percaya diri dan berani. Saat pelantikan dengan simbolis ketua dewan pengurus organtri 2013-2014 memberikan kerudung khusus kepada ketua Dewan pengurus organtri periode 2014-2015.

Setelah prosesi serah terima jabatan Dewan Pengurus Organtri 2014-2015 berakhir, mereka diarahkan oleh Ustadzah Rahma untuk saling bersalaman. Dewan Pengurus Organtri 2013-2014 yang diketuai oleh Ratna Isti Utami dan Adinda Ayu Pancaring Pamungkas sebagai wakil ketua serta beranggotakan Fandya Rasmita Diniswara, Hasna Zakiyyah, Surma Nurul Aini, Fatin Anfusina, Amalia Nur Azizah, Purwanti Fadiah Kusuma Sari Subijanto, Salsabila Amjad Rasyida Jauhari, Eka Arista Widya, Shafa Safira Robbani, Nurul Huda, Fathimah Mufida Az-Zahra, Tsaniya Azizah, Zahratul Millah pun mengucapkan selamat kepada Dewan Pengurus Organtri 2014-2015 yang diketuai oleh Gesa Pangesti Dewi dan Huriyah Ar-rahma sebagai wakil ketua serta beranggotakan Putri Rengganis Muslim, Atita Damayanti Kusawa, Rahajeng Dzakiyya Ikbar, Fauziyah Khanza Adrian, Nadhira Valenia, Nadiah Robbi Rodliyah, Nur Arifah Ardiyanti, Annisa Nurulitha Hanif, Ulva Fitri, Hazana insh’ta Sahla, Salwa Nadine Bachtiar, Salwa Zayyani El-Haq, Ernanda Aulia Faza.

Seluruh santri Al-Izzah baik SMP maupun SMA dipersilahkan kembali ke kelas masing-masing kecuali Dewan Pengurus Organtri, OSIS, dan MPK 2013-2014 serta 2014-2015. Rangkaian acara serah terima jabatan pun kami akhiri dengan foto bersama sesuai organisasi masing-masing, baik yang baru saja berakhir maupun yang baru saja dimulai jabatannya. Semoga Dewan Pengurus Organtri, OSIS, maupun MPK tahun ajaran 2014-2015 ini bisa lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Aamiin.

OSIS 10 OSIS 9 OSIS 8 OSIS 7 OSIS 6 OSIS 5 OSIS 4 OSIS 3 OSIS 2 OSIS 1

PENDAFTARAN SANTRI BARU SMP & SMA T.A 2015-2016 TELAH DIBUKA

21 Agustus 2014 by Al-Izzah in Berita

Untuk pendaftaran santri baru tahun ajaran 2015-2016 sudah kami buka melalui :

 

1. Sistem Offline yaitu cara pendaftaran dilakukan langsung di sekolah dengan mengisi formulir yang telah disediakan oleh panitia.

2. Sistem Online yaitu cara pendaftaran dapat dilakukan melalui website resmi al-izzah dengan link dibawah ini :

(untuk sementara pendaftaran secara online kami buka pada bulan september)

3. Formulir pendaftaran juga dapat didownload di link : download disini

4. Download Panduan PSB di link : Panduan PSB

* Pembayaran Pendaftaran sebesar Rp. 300.000,- Dapat di transfer melalui No. Rek. Bank Syariah Mandiri 7201420158 a.n LPMI Al Izzah. Konfirmasi pembayaran harap kirim SMS ke No. 082234604215, dengan format

[tgl transfer] [nama anak] [SMP/SMA] [nama pengirim]

Contoh : 12/09/14 CINTIA LUBIS / SMA / ADAM RIDWAN

 

Semangat Baru

12 Agustus 2014 by Al-Izzah in Berita, kegiatan siswa

Alizzah-batu.sch.id, Batu –  Alhamdulillâhi wahdah, wash shalalâtu was salâm ‘alâ rasûlillâh.

Setelah libur hari raya dan semester seluruh santri al-izzah kembali untuk menjalani aktifitas rutinnya. Hari senin kemarin dilaksanakan apel pagi, santri dengan antusias dan penuh semangat mengikuti jalannya acara. Dalam apel kali ini Ust. Maftuhin memberikan tausiah tentang pentingnya puasa sunah di bulan Syawwal. “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun . (HR. Muslim). Untuk itu beliau mengajak seluruh santri untuk melanjutkan berpuasa 6 hari di bulan syawal walaupun berpuasa dibulan syawal hukumnya sunah tetapi para santri di al-izzah diwajibkan untuk melaksanakannya. Kegiatan apel pagi di tutup dengan acara halal bihalal antara santri dengan para ustad dan ustadza sekaligus antara para santri SMP dan SMA.

halal 1 halal 2 halal 3

halal 4

Suriah Memanggil, Palestina Menyeru

22 Juli 2014 by Al-Izzah in Berita

Di tengah menjalankan ibadah puasa Ramadlan, umat Islam dunia dikejutkan dengan adanya invasi militer yang dilakukan oleh Israel ke Gaza, Palestina. Dalam serangan tersebut, sedikitnya 500 orang meninggal dalam waktu dua pekan ini. Korban tidak hanya dari para kaum pria dewasa, tapi juga dari kalangan wanita dan anak-anak.

Dunia berduka,

Dunia menangis,

Dunia mengecam aksi Zionis,

Dunia tergerak untuk saling bahu membantu beban derita warga Gaza.

Maka tepat tanggal 14-15 Juli 2014 kemarin, LPMI Al Izzah mengumpulkan seluruh santri dan dewan asatidz nya untuk menggalang dana kemanusiaan yang akan didonasikan kepada korba di Gaza. Pada kesempatan itu, turut diundang sebagai pembicara yaitu Tim dari relawan Sahabat Al Aqsha, selaku organisasi yang akan menyalurkan dana kemanusiaan ke Palestina.

Antusias para santri dan dewan asatidz sungguh luar biasa. Dana yang terkumpul yang akan disalurkan melalui organisasi Sahabat Al Aqsha berjumlah Rp. 31 juta. Nominal ini mungkin tidak begitu besar, namun semangat kepedulian akan memberikan nilai khusus bagi para santri dan korban invasi militer zionis Israel.

SMP AL IZZAH BERTENGGER DI KOTA BATU DAN MALANG RAYA

17 Juni 2014 by Al-Izzah in Berita

Al-Izzah International Islamic Boarding School, alizzah-batu.sch.id, — SMP AL IZZAH  BERTENGGER DI KOTA BATU DAN MALANG RAYA, sepertinya tak segan-segan para ustad dan ustadzah menggembleng santri pada awal masuk sekolah hingga sampai akhirnya dikukuhkan pada wisuda 2 hari berselang. Bukti nyata kerja keras mereka dan semangat tanpa putus santri al-izzah dengan diperolehnya hasil  nilai rata-rata UN tertinggi se kota batu, dan urutan ke-2 di malang raya. Al-izzah semakin mantab seiring dengan VISI lembaga ” Menjadi Pesantren Modern Kebanggaan Umat Islam Indonesia”. Selain diraihnya hasil UN tertinggi se kota batu, SMP al-izzah juga meluluskan santri berprestasi dengan hafal 30 Juz sebanyak 2 orang.

 

WISUDA DENGAN BERIBU GUDANG PRESTASI

17 Juni 2014 by Al-Izzah in Berita

Al-Izzah International Islamic Boarding School, alizzah-batu.sch.id, — Hari ahad tanggal 15 Juni 2014 adalah moment berharga yang tak terlupakan di al-izzah. Haru tangis dan tawa bercampur dengan indahnya lantunan tilawah al-Quran dan hiasan panggung, sangat istimewa dengan raihan beribu prestasi santri al-izzah baik SMP maupun SMA telah di kukuhkan dan dilepas dalam acara wisuda SMP angkatan ke-VI dan SMA angkatan ke-I.

Dalam kegiatan ini dihadiri oleh seluruh wali santri SMP dan SMA dan beberapa undangan yang berasal dari seluruh pelosok tanah air, kedatangan mereka adalah disamping mendampingi anak mereka untuk di wisuda selain itu juga ikut berbagi kebahagiaan dengan para wali santri yang lain.

Acara ontime dimulai pukul 08.00 WIB acara diawali dengan tilawah Al-Quran dan sari tilawah, pesan kesan dari santri, penganugerahan santri berprestasi, pengukuhan wisudawati sampai ujung acara selesai.

Dalam acara ini juga di undang bapak prof. H. Candra Fajri Ananda M.Sc Ph.D, bapak  Ir. Jauhari, M.Sc,  bapak Prof. Dr. Ubud Salim, SE. MA, dan beberapa tokoh masyarakat desa sumberejo.

Dengan berakhirnya acara ini semoga dapat menjadi kenangan, cerita, kebahagiaan dan kata manis agar selalu mengamalkan semua ilmu yang diperoleh selama belajar di Al-Izzah dan bermanfaat di tempat tinggal masing-masing.

 

 

 

 

UNDANGAN PENGAMBILAN RAPORT DAN WISUDA

11 Juni 2014 by Al-Izzah in Berita, kegiatan siswa

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahNya, sehingga kita masih bisa merasakan nikmat berupa kesehatan Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW,  sebagai insan yang perlu kita tauladani.  Seiring dengan berakhirnya tahun pelajaran 2013/2014 maka kami bermaksud mengundang Bpk/ibu dalam acara Pengambilan Raport dan Wisuda SMP-SMA yang Insha allah diadakan pada :

A. Pengambilan Raport

Hari/ tgl   : Sabtu – 14 Juni 2014
Pukul      : 07.30 – 10.30 WIB
Tempat  :  Megahall Gedung Athaya , Kampus Al-Izzah

 

B. Wisuda

Hari/ tgl   : Ahad - 15 Juni 2014
Pukul      : 06.45 - Selesai
Tempat  :  Megahall Gedung Athaya , Kampus Al-Izzah

 

Informasi Hub : Ustd. Wartono 085641799800

 

Wassalamualaikum Wr.Wb.

  Online Staff

Statistic Website
User Online : 1 Today Visit :