LOGIN FORM

Untuk Mengakses Sistem Administrasi & Akademik

SDM Orang Tua

 

Berita

Agenda Al-Izzah di Oktober

20 Oktober 2014 by Media Al-Izzah in Berita

International Islamic Boarding School AL-IZZAH – Agenda  di Oktober
1. Pengambilan Hasil UTS SMA Tgl. 25 Okt jam 08.00
2. Pengambilan Hasil UTS SMP Tgl. 1 Nov jam 08.00
3. tgl. 21 Okt. Kunjungan ke ITS kelas X MIA
4. tgl. 22 Okt.Kunjungan ke UNAIR dan UNESA kelas X IPS
5. tgl. 22 – 25 Okt. pameran Pendidikan SMA di Depan Stadion Kota Batu
5. tgl. 20 Okt. dan 30 Oktober Ujian Cambridge IGCSW
6. Tgl. 22-24 Okt.Ujian Chek Point
7. Milad AL-Izzah Tgl. 24 Okt.

 

PERAYAAN HARI RAYA IDUL ADHA DI AL-IZZAH

11 Oktober 2014 by Media Al-Izzah in Berita, kegiatan siswa

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah tuhan penguasa alam. Sang penentu kehidupan, Sang penebar kasih sayang.
Peringatan Hari Raya Idul Adha pada tahun ini, 1435 H berjalan lancar penuh dengan kehidmatan. Tidak terkecuali kami keluarga besar LPMI Al Izzah International Islamic Boarding School, merayakan Idul Qurban dengan para santri dan orang tua serta masyarakat sekitar.
Atas kerjasama yang diberikan oleh pihak-pihak terkait, baik dari santri, wali santri, para simpatisan, hingga aparat setempat, kami bisa melangsungkan perayaan Idul Adha dengan penuh kehangatan. Pengumpulan hewan qurban, penyembelihan, hingga penyaluran daging qurban, dapat berlangsung penuh.
Maka kami sampaikan ucapan terimakasih pada semua yang ikut serta dalam perayaan di pesantren kami. Semoga semua amal ibadah dan pengorbanan kita diterima dan diberikan imbalan yang setimpal oleh Allah azza wa jalla.

Daftar Nama santri Penyumbang Hewan Kurban

ADIA MISQA IMTIYAZ ROHMAN
ADILLAH LUTHFIYATUL ZAHRAH
ALFINA HIDAYAH
ATIKAH NUR LAILY
AULIYA ANANDAFA YASMIN
CARISA NURINA RAHMAWATI
CUT IRMA FITRI
DALILAH ALMIRANDA
DETRIA AZKA SHABIRINA
ELITA KABAYEVA
EMIRA AREEFA AJI
FADILLAH PUTRI CAHYANTI
FARA SHABRINA HARTHANTI
GRISELDA ARDELIA EDINIGTYAS
HAFIDHATUL AISY
IDZNILA SHABRINA KARTIKA
LUTFIA RIMA SAFIRA
MEUTIA KHANSA AKMAL
NEEZA SALSABILA FIRDAUS
NURFADILAH YUSRI
PUTRI AFIFAH YASMIN
PUTRI MINDYA RAHMANI
RAISSA PRATIWI
RAYZA RIZQUINA
SAYYIDINA IMANNISSA AJI
SYIFA DENALI
WADI’AH AZZAH ZHAFIRA
WIDYA MESA WULANSARI
OVELIA NOOR ALAYYA
DESAIRA ALVI NOOR AVIA
TIFFA NAHDA KAUTSAR
UST. ABDILLAH ADAM
UST. JULIAWARMAN
TRI PUJIATI
QUSNUL
QATIMAH
ALIFIA SHORAYA
ANISA NABILA ZAFIRA
AQILA TASYA INAYAH
BP. SUDJAD MUSTOFA
DESRINA FITRIYAH HASYIM
SHAKILA RATRI FITRI
GITA SHANTY
TARISHA WAHYU RAMADHANI
NINA FADIYAH
FAIQOH YUMNI MAULIDA
SYAFIRA YASMIN
MADJIDA AYU FENDA
RANA AFIFAH
ISLAMIA HARTONO PUTRI
TSANIA FITRI
SHERINA
BAPAK
YUSA
ZAHROTUL AZIZAH VANIA
AULIA NUR
HALIZA
ALIFYA
AZ ZAHRA
ANGGIE REZITA

 

DAFTAR NAMA PSB SMP&SMA 2015-2016 YANG TEREGISTRASI

5 Oktober 2014 by Media Al-Izzah in Berita

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Berikut kami informasikan DAFTAR NAMA PSB  SMP&SMA 2015-2016 YANG TEREGISTRASI, Jika sudah mendaftar dan nama masih belum muncul silahkan menghubungi. Andi 081333008134

Download DISINI Publis 15

“ SELAMAT MENEMPUH UJIAN TENGAH SEMESTER ”

1 Oktober 2014 by Media Al-Izzah in Berita

Bismillahirrahmanirrahim, segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

Hari Rabu24 September  2014, SMP – SMA Al Izzah International Islamic Boarding School menggelar Ujian Tengah Semester guna melengkapi sistem kurikulum  tahun ajaran 2014-2015 ini. Ujian Tengah Semester ini diikuti oleh seluruh santriwati SMP kelas VII hingga kelas IX, dan dari SMA diikuti oleh seluruh santriwati SMA kelas X hingga kelas XII.

UTS merupakan salah satu kegiatan evaluasi hasil belajar siswa. Evaluasi ini adalah pemberian penilaian terhadap kemampuan siswa dalam menerima, memahami, dan menguasai bahan studi yang disajikan sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan, dan menilai perubahan sikap dan keterampilannya. Adapun tujuan pelaksanaan UTS diantaranya:

- Untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kurun waktu studi tertentu.

- Untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran.

 

Masa ujian ini akan berlangsung selama sembilan hari dan berakhir pada hari Jumat, 3 Oktober 2014. Maka demi berlangsungnya ujian dengan lancar, kami mengajak seluruh walisantri untuk ikut berdoa atas kelancaran masa UTS dan atas kelancaran ananda dalam mengerjakan soal-soal yang diujikan dalam UTS tahun ini.

 

“ SELAMAT MENEMPUH UJIAN TENGAH SEMESTER ”

NATIVE BUT NOT REAL NATIVE

27 September 2014 by Media Al-Izzah in Berita

Di hari sabtu yang cerah, Al-Izzah kedatangan tamu spesial yang cukup membuat heboh para santriwati kelas 7. Native Speaker atau ‘BULE’ yang datang menyapa santriwati bukanlah bule seperti pada umumnya yang berambut pirang, mata biru, tinggi besar atau ciri bule lainnya. Yang datang kali ini cukup berbeda karena mereka adalah Korea Amerika dan juga Korea Kanada.. ya mereka keturunan Korea yang kemudian pindah dan tinggal di Amerika dan juga di Kanada. Apalagi dengan demam K-Pop maka santriwati kelas 7 berebut untuk berfoto dengan mereka di akhir acara. Kedatangan mereka ke kampus Al-Izzah untuk memenuhi undangan dari Divisi Pengembangan Bahasa Asing yang bertujuan untuk memberikan motivasi dan mengajarkan para santriwati hal-hal menarik dari pembelajaran bahasa inggris. Bertempat di Mega Hall gedung Attoyya para santriwati belajar dan bermain bersama. Berbagai pertanyaan yang keluar dari para santriwati ditanggapi dan dijawab dengan antusias oleh para bule tersebut. Yang cukup membuat anak-anak tertawa adalah ketika mereka mencoba berbicara dengan bahasa Indonesia tapi dengan logat kental korea. Bahkan ketika mereka perkenalan dengan menggunakan bahasa korea para santriwati langsung menyambutnya dengan heboh disertai tepuk tangan. Sebuah testimoni dari Mrs. Jonah tentang anak-anak kelas 7 adalah mereka rata-rata sudah mampu berkomunikasi dalam bahasa inggris dengan baik. Mereka perlu latihan lebih banyak dalam hal berkomunikasi. Mereka sudah berada di lingkungan belajar yang baik dengan program pembinaan bahasa asing yang sudah terpola.

Di hari sabtu yang cerah, Al-Izzah kedatangan tamu spesial yang cukup membuat heboh para santriwati kelas 7. Native Speaker atau ‘BULE’ yang datang menyapa santriwati bukanlah bule seperti pada umumnya yang berambut pirang, mata biru, tinggi besar atau ciri bule lainnya. Yang datang kali ini cukup berbeda karena mereka adalah Korea Amerika dan juga Korea Kanada.. ya mereka keturunan Korea yang kemudian pindah dan tinggal di Amerika dan juga di Kanada. Apalagi dengan demam K-Pop maka santriwati kelas 7 berebut untuk berfoto dengan mereka di akhir acara. Kedatangan mereka ke kampus Al-Izzah untuk memenuhi undangan dari Divisi Pengembangan Bahasa Asing yang bertujuan untuk memberikan motivasi dan mengajarkan para santriwati hal-hal menarik dari pembelajaran bahasa inggris. Bertempat di Mega Hall gedung Attoyya para santriwati belajar dan bermain bersama. Berbagai pertanyaan yang keluar dari para santriwati ditanggapi dan dijawab dengan antusias oleh para bule tersebut. Yang cukup membuat anak-anak tertawa adalah ketika mereka mencoba berbicara dengan bahasa Indonesia tapi dengan logat kental korea. Bahkan ketika mereka perkenalan dengan menggunakan bahasa korea para santriwati langsung menyambutnya dengan heboh disertai tepuk tangan. Sebuah testimoni dari Mrs. Jonah tentang anak-anak kelas 7 adalah mereka rata-rata sudah mampu berkomunikasi dalam bahasa inggris dengan baik. Mereka perlu latihan lebih banyak dalam hal berkomunikasi. Mereka sudah berada di lingkungan belajar yang baik dengan program pembinaan bahasa asing yang sudah terpola.

Menanggapi hal tersebut maka Divisi Pengembangan Bahasa Asing sudah merencanakan program lanjutan untuk terus mewadahi dan mengembangkan kemampuan bahasa asing para santriwati Al-Izzah. InshaAllah rencana program Native masuk dan mengajar di kelas bisa segera terwujud sehingga anak-anak bisa menambah ilmu dan wawasan Bahasa Inggris langsung dari sumbernya yaitu Native English. Seperti dari pepatah “Belajar yang baik adalah belajar langsung dari sumbernya “

MoU Al Izzah IIBS dengan SMP IT Qurrota A’yun Ponorogo

18 September 2014 by Media Al-Izzah in Berita

Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah, Tuhan Penguasa alam semesta. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, penutup para Nabi.
Untuk mewujudkan system pembelajaran yang bagus dan berkembang luas, maka Yayasan LPMI Al Izzah International Islamic Boarding School kembali membuka kerjasama atau MoU dengan lembaga pendidikan Islam terpadu dari Ponorogo, yaitu SMP IT Qurrota A’yun, dalam program Cambridge School Sister.
Tujuan Program tersebut adalah :
1.Memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat bersaing di tingkatinternational.
2.Meberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan menggunakan kurikulum berstandar international.
3.Mengetahui sejauh mana posisi kemampuan siswa di tingkat international.
4.Meningkatkan kompetensi siswa dan guru dalam menguasai bahasa Inggris.
5.Mengembangkan kreatifitas guru dalam mengembangkan silabus dan worksheet untuk membantu siswa dalam bersaing di tingkat internasional.
6.Memberikan kesempatan para guru untuk mendapatkan In-Service Training baik dalam skala nasional maupun internasional.

 

 

Mari Bersama Sambut Hari Raya Idul Adha

7 September 2014 by Media Al-Izzah in Berita

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Kami informasikan kepada segenap walisantri  dan simpatisan Al-Izzah bahwasanya untuk meyemarakkan perayaan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1435 H, kami membuka kesempatan bagi Bapak/Ibu yang ingin menyalurkan hewan Kurban berupa Kambing atau Sapi dengan estimasi :

1 Ekor kambing  = Rp. 2.500.000
1 Ekor Sapi        = Rp. 17.500.000 (7 orang@2,5jt)
Donasi dapat disampaikan No Rek SPP santri via bank muamalat cabang malang, Konfirmasi  transfer ke 085755553929 dengan Format :  Nama Santri_Kelas_Qurban_Jenis hewan qurban (Sapi/kambing)

Jazakumullah ahsanal jazaa’

DAFTAR NAMA PSB SMP&SMA 2015-2016 YANG TEREGISTRASI

1 September 2014 by Al-Izzah in Berita

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Berikut kami informasikan DAFTAR NAMA PSB  SMP&SMA 2015-2016 YANG TEREGISTRASI, Jika sudah mendaftar dan nama masih belum muncul silahkan menghubungi. Andi 081333008134

Download DISINI Publis 11

GEBRAKAN ISLAMISASI ILMU

30 Agustus 2014 by Al-Izzah in Artikel Guru, Berita

Mengutip Tulisan Dr Adian Husaini
Jurnal Pemikiran Islam Islamia (Republika-INSISTS), edisi Kamis (18/7/2013), menurunkan sebuah tulisan menarik berjudul “ISLAMISASI, DEWESTERNISASI DAN DEKOLONISASI”, karya Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud. Bagi pecinta dan pemerhati khazanah pemikiran Islam kontemporer, nama penulis tersebut tentu sudah tidak asing lagi.
Tahun lalu, Prof Wan Mohd Nor meluncurkan buku penting berjudul Rihlah Ilmiah: Dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer. Buku ini menggambarkan perjalanan intelektualnya, bergurukepada dua ilmuwan besar di abad ke-20 dan ke-21, yaitu Prof. Fazlur Rahman – pelopor gagasan neomodernisme – dan Prof. Naquib al-Attas – pelopor gagasan Islamisasi Ilmu kontemporer. Kini, bersama sejumlah cendekiawan muslim berkaliber tinggi, ia memimpin sebuah institusi pendidikan tinggi pasca sarjana bernama Center for Advanved Studies on Islam, Science, and Civilization (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia, yang kini menjadi salah satu pusat perkaderan intelektual Muslim dari berbagai dunia.

Dalam artikelnya – yang dikutip dari monograp pidato professorialnya — Prof Wan Mohd Nor menekankan pentingnya kaum Muslim memiliki kepedulian serius terhadap pengembangan institusi pendidikan tinggi. Sebab, institusi inilah yang paling strategis dan arkitektonis menentukan perkembangan suatu bangsa. Mengutip pendapat sejumlah akademisi terkemuka, seperti Clerk Kerr, disebutkan, bangsa-bangsa yang bermaksud meraih pengaruh intenasional seyogyanya mendirikan pusat-pusat studi yang unggul (excellent) pada level tertinggi. (Clerk Kerr, “The Frantic Rush to Remain Contemporary” Deadalus. Journal of the American Academy of Arts and Sciences. Volume 94, No. 4 Fall 1964).

Philip Coombs, mantan Undersecretary of State AS semasa pemerintahan John F Kennedy, menyatakan, bahwa pendidikan dan budaya adalah “aspek keempat” dari politik luar negeri, disamping ekonomi, diplomasi dan aspek militer. Babak Perang Dingin telah meningkatkan kepentingan strategis dari Pendidikan Tinggi. Kini, persenjataan modern lebih bergantung pada ilmu pengetahuan ilmiah dibandingkan dengan hitungan tradisional jumlah tentara dan banyaknya perlengkapan militer. (Philip Coombs, The Fourth Dimension of Foreign Policy: Education and Cultural Affairs (New York: Harper and Row, 1964).

Pada 6 Juli 2013, saat bertindak sebagai keynote speaker dalam Seminar tentang Pendidikan Islam di Jakarta, Prof Wan Mohd Nor juga sudah memberikan penjelasan yang sangat mendasar tentang pentingnya para akademisi Muslim memberikan perhatian yang serius terhadap Pendidikan Tinggi dan terus berusaha melakukan proses Islamisasi terhadap ilmu pengetahuan. Itu bukan berarti mengabaikan pendidikan tingkat dasar dan menengah. Tapi, perlu dicatat, bahwa para guru yang mengajar di pendidikan dasar dan menengah adalah produk dari pendidikan tinggi. Bukankah Nabi Muhammad saw juga sudah mengingatkan, bahwa anak-anak terlahir dalam kondisi fitrahnya. Kedua orang tualah yang mengarahkannya menjadi Majusi, Yahudi, atau Nasrani.
Seminar pendidikan Islam itu diselenggarakan oleh Program Pendidikan Islam Pasca Sarjana UIKA Bogor, bekerjasama dengan Casis-UTM dan AQL-Islamic Center pimpinan KH Bahtiar Nasir. Seminar juga mengambil tema Islamisasi Kurikulum Pendidikan Tinggi.

Pemakalah lain adalah Dr. Nirwan Syafrin (pakar pemikiran Islam, wakil rektor UIKA Bogor), Dr. Wendi Zarman (pakar sains Islam, dosen UNIKOM Bandung), dan Adnin Armas MA (pakar filsafat Islam, direktur eksekutif INSISTS), Dr. Adian Husaini, dan juga KH Bahtiar Nasir, Sekjen Majlis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).
Sebelum seminar di Jakarta tersebut, pada 26 Juni 2013, Prof Wan Mohd Nor menyampaikan pidato profesorialnya yang bersejarah di UTM, berjudul “ISLAMIZATION OF CONTEMPORARY KNOWLEDGE AND THE ROLE OF THE UNIVERSITY IN THE CONTEXT OF DE-WESTERNIZATION AND DECOLONIZATION.” Pidato ini dihadiri oleh lebih dari 550 akademisi dari berbagai negara dan universitas serta disebut-sebut sebagai pidato ilmiah yang paling banyak menarik perhatian dalam sejarah universitas tersebut.

Dalam pidatonya — yang sebagiannya dikutip dalam artikel di Jurnal Islamia INSISTS-Republika tersebut — Prof Wan Mohd Nor menggambarkan fenomena global munculnya kesadaran kritis terhadap dampak buruk peradaban Barat bagi kemanusiaan. Menurutnya, globalisasi Eropa dimulai dengan perjalanan-perjalanan “penemuan” pada akhir abad ke 15. Hal ini diikuti dengan imperialisme, yang dicirikan dengan adanya penaklukan dan pengendalian politik secara langsung dari kota-kota besar Eropa. Sejak abad ke-17 dan seterusnya, imperialisme ini berhasil terwujud berkat kolonisasi – dengan pembentukan komunitas-komunitas imigran di wilayah-wilayah penjajahan, meniru kota-kota besar, dan didukung dengan adanya perbudakan dan buruh kontrak. Itu menghasilkan kolonisasi — sebuah kondisi yang mengacu pada penundukan sistematis bangsa terjajah.
Perkembangan yang saling terkait ini, yang dimungkinkan oleh worldview Eropasentris yang menggambarkan perspektif epistemik tertentu, telah menimbulkan banyak penderitaan dan kerugian politik, ekonomi, serta sosial budaya penduduk asli. Dominasi Barat menjadi lebih intensif – dengan ikut berperannya Amerika Serikat pada pertengahan abad ke 20 dalam bentuk neokolonialisme – terutama melalui konsep modernisasi dan perkembangan, dan kemudian, melalui konsep demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia.

Dijelaskan, bahwa kolonisasi memainkan peran penting dalam konsepsi dan sifat Perguruan Tinggi di semua negara yang baru merdeka. Dalam arti, bahwa meskipun banyak diantaranya yang didirikan sebelum kemerdekaan, namun keberadaan mereka hingga kini – dan pembentukan Perguruan Tinggi-perguruan tinggi yang baru – dibuat untuk melayani kepentingan modernisasi bangsa dan negara baru sesuai dengan pola yang “benar” ala Barat. Perkembangan ekonomi dari Negara-negara “belum berkembang” ini dipaksa untuk mengikuti dengan ketat semua tahapan Rostowian yang memungkinkan modernisasi termasuk penerapan semua lembaga yang memungkinkan pencapaian tersebut di Barat, termasuk perguruan tinggi-perguruan tingginya.

Kesadaran baru

Tapi, sejak era 1970-an, muncullah kesadaran akan dampak buruk westenisasi dan kolonisasi sehingga memunculkan wacana “de-westernisasi” dan dekolonisasi di berbagai belahan dunia. Sejak tahun 1970-an pula, gerakan Ilmu Pengetahuan Pribumi (Indigenous Knowledge Movement), terutama di Amerika Utara, yang berusaha untuk menawarkan satu sistem alternatif bagi pendidikan dan ilmu pengetahuan — selain yang ditawarkan Eropa — menerima penghargaan dan pengakuan internasional. Pada 1990-an, gerakan ini telah menghasilkan wacana dekolonisasi dan memikirkan kembali pendidikan bagi masyarakat pribumi.

Lebih jauh dipaparkan, bahwa adalah penting bagi warga demokrasi liberal Eropa untuk memahami suara-suara alternatif dan bahkan tidak setuju dengan yang lain, yang tidak hanya akan memperlambat roda neo-kolonialisme, tetapi yang lebih penting, akan membuat orang Barat memahami bagaimana mitos superioritas mereka telah merusak diri mereka sendiri. “Mereka mungkin bisa mulai menangani ekses mereka sendiri, mempertanyakan lembaga dan gaya hidup mereka sendiri, sebelum memutuskan pada tindakan yang benar bagi orang lain.” (Peter Cox, “Globalization of What?”, hal. 6.)

Di tengah-tengah gencarnya isu terorisme Islam, Martin Jacques, dalam bukunya, When China Rules the World, justru mengungkapkan, bahwa tantangan yang lebih besar terhadap peradaban Barat pasca Perang Dingin, bukanlah terorisme Islam, tetapi suatu era yang disebutnya sebagai “Era modernitas yang diperdebatkan”. Di antara banyak isu-isu kunci, Jacques berpendapat bahwa ide-ide yang berkaitan dengan makna kemajuan, pengembangan, dan peradaban tidak akan lagi identik dengan Barat.

Seorang pakar Cina kontemporer terkemuka, Huang Ping, dengan percaya diri menekankan perbedaan mendasar antara peradaban Cina dan Barat dan seseorang akan berpendapat bahwa, “Praktek Cina sendiri mampu menghasilkan alternatif konsep, teori, dan framework yang lebih meyakinkan.”

Ulrich Beck, seorang sosiolog di University of Munich dan London School of Economics, dalam sebuah wawancara belum lama ini, berbicara tentang bagaimana kesuksesan besar Modernitas Eropa pertama dari abad ke-18 hingga tahun 1960-an dan 1970-an kini telah menghasilkan konsekuensi yang tak terjawab, seperti perubahan iklim dan krisis keuangan. Dia menambahkan, “Krisis keuangan adalah contoh kemenangan interpretasi spesifik dari modernitas: modernitas neo-liberal setelah keruntuhan sistem komunis, yang menyatakan bahwa pasar adalah solusi dan semakin kita meningkatkan peran pasar , semakin baik. Tapi sekarang kita melihat bahwa model ini jatuh dan kita tidak memiliki jawaban.” Menurutnya, ” …modernitas Eropa adalah proyek bunuh diri … Menciptakan modernitas kembali bisa menjadi tujuan khusus untuk Eropa.”

Demikianlah paparan tentang munculnya berbagai gerakan dewesternisasi dan dekolonisasi dari Prof. Wan Mohd Nor. Paparan ini menyadarkan, bahwa munculnya usaha-usaha dewesternisasi dan dekolonisasi di belahan dunia – termasuk di Negara Barat sendiri – semakin memperkuat logika keabsahan adanya proses Islamisasi dalam bidang keilmuan. Banyak ilmuwan Muslim yang telah menulis tentang dampak buruk konsep keilmuan sekuler Barat terhadap kemanusiaan. Tetapi, sebuah langkah berdasar pada konsep yang sistematis dan mendasar telah dipelopori oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang sejak lama mengingatkan bahwa problem utama umat Islam adalah “problem ilmu pengetahuan” (the problem of knowledge).

Dalam berbagai karyanya, yang dimulai di awal 1970-an, Prof. Naquib al-Attas menjelaskan dasar-dasar perbedaan ontologis, epistemologis, etika dan budaya antara Islam dan Barat sekuler yang dominan. Al-Attas pun telah meluncurkan wacana serius tentang dewesternisasi dan dekolonisasi melalui proyek intelektual Islamisasi pengetahuan kontemporer, yang berpusat di universitas. Menurut al-Attas, Islamisasi adalah: “usaha untuk membebaskan manusia pertama-tamanya dari tradisi magis, mitos, animistik, kultur nasional, lalu membebaskan dari jeratan sekular yang membelenggu akal dan bahasanya. Orang Islam adalah orang yang akal dan bahasanya tidak lagi dikontrol oleh magis, mitos, animisme dan tradisi nasionalisme dan kulturalnya. Inilah perbedaan antara Islam dan sekularisme.”

Menurut Prof. Wan Mohd Nor, tujuan akhir dari dewesternisasi, dekolonisasi, dan Islamisasi pengetahuan dan pendidikan kontemporer harus benar-benar difokuskan pada pembentukan manusia yang tepat yang akan melakukan berbagai peran dalam masyarakat. Proyek dekolonisasi, de-westernisasi, dan Islamisasi bukan sekedar reaksi untuk kondisi eksternal yang tidak Islami belaka, tetapi yang lebih penting, dan mendasar, adalah kembali kepada tujuan dan sifat asli manusia yang membawa manusia ke tujuan penerimaan dan penyebaran pengetahuan dan makna serta tujuan pendidikan, yakni terbentuknya manusia yang baik, manusia yang beradab.

Penjelasan pakar pendidikan Islam internasional ini sangat penting untuk kita renungkan dalam rangka mengevaluasi dan terus memperkuat gerakaaan Islamisasi ilmu dan juga lembaga-lembaga pendidikan. Seperti ditegaskan Prof Wan Mohd Nor, di saat westernisasi dan kolonisasi dalam berbagai bentuknya masih berpengaruh dalam konteks globalisasi saat ini, upaya sejumlah ilmuwan Muslim untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, bukan hanya usaha yang sah untuk mempertahankan identitas agama dan budaya mereka, tetapi juga usaha untuk menawarkan alternatif yang lebih baik dari modernitas Barat, yang telah menunjukkan defisit yang serius pada level global.

Fakta menunjukkan, defisit modernitas Barat itu telah melintasi batas-batas agama, budaya, dan batas-batas negara, sehingga banyak ilmuwan non-muslim dan pembuat kebijakan di berbagai tempat menyampaikan hujjah tentang perlunya melakukan usaha de-westernisasi, dekolonialisasi, dan pribumisasi dari framework ilmu pengetahuan. De-westernisasi dan Islamisasi ilmu kontemporer – dalam keterkaitannya dengan konsep universitas Islam dan adab – adalah salah satu dari usaha-usaha ini. Bahkan, dibandingkan dengan gerakan sejenis, Islamisasi ilmu kontemporer, lebih bersifat spiritual, komprehensif, universal dan lebih kuat pengaruhnya.

Penegasan Prof. Wan Mohd Nor tentang nilai strategis gerakan Islamisasi ilmu ini bisa kita jadikan sebagai bahan evaluasi proses gerakan Islamisasi ilmu yang telah dan sedang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam, mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Kita perlu menekankan dan mengingat terus, bahwa hakekat dan tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencetak manusia yang baik, seperti ditegaskan oleh Prof. Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam and Secularism: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”

Manusia diciptakan Allah dalam kondisi dan potensi yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Dalam kaitan inilah, kita perlu memahami dan mengimplementasikan konsep keunikan manusia, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw: “Manusia itu adalah barang tambang, laksana emas dan perak. Orang-orang terbaik diantara mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang terbaik juga di masa Islam, apabila mereka faqih fid-ddin.” (Muttafaq ‘alaih).

Manusia-manusia yang ingin kita hasilkan dari lembaga pendidikan kita adalah manusia yang baik, manusia yang bermanfaat untuk manusia. Godaan syahwat materialisme dan hedonisme telah banyak menggoda lembaga pendidikan untuk terjun ke pusaran pragmatisme di bidang pendidikan, khususnya di perguruan tinggi. Kekeliruan dan ketidaktahuan konsep ilmu dalam Islam telah menjerat banyak potensi-potensi unggul kaum Muslim ke pusaran pragmatisme, tanpa sadar melupakan amanah keilmuan dan keulamaan yang wajib diemban oleh ummat Rasulullah saw. Kita melihat, kini, tak sedikit sarjana-sarjana pintar yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan, tanpa terpikir lagi untuk meningkatkan keilmuan fardhu ain dan fardhu kifayahnya. Tidak sedikit yang kemudian terjebak ke dalam kubangan kehidupan materialisme, dengan melupakan tujuan hidup dan kewajibannya sebagai umat pengemban dakwah Islam, mewujudkan misi rahmatan lil-alamin.

Itulah perlunya Islamisasi ilmu, yang tujuan finalnya adalah untuk melahirkan manusia-manusia yang beradab tinggi, manusia yang mampu mengemban amanah khalifatullah dan amanah risalah kenabian. Apa yang dipaparkan oleh Prof Wan Mohd Nor kita jadikan sebagai bahan nutrisi tambahan untuk meningkatkan stamina kita dalam melakukan proses Islamisasi yang tiada kenal henti. Sebab, tantangan intenal dan eksternal pun terus menghadang. Wallahu a’lam bish-shawab. (Doha, Qatar, 14 Ramadhan 1434 H/23 Juli 2013).
[Dr Adian Husaini - adianhusaini.com].

Emansipasi Wanita Adakah Dalam Islam ?

30 Agustus 2014 by Al-Izzah in Artikel Guru, Berita

Gelombang Emansipasi yang ditiupkan oleh Barat pada awal abad 20 ini mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan wanita Islam. Dikemas dalam bentuk yang amat menarik, hingga mampu menyeret kaum Hawa untuk terjun ke bidang yang selama ini diisi oleh lelaki. Tak heran apabila sekarang banyak dijumpai wanita di jalan-jalan, lapangan sepak bola, berdesakan dalam bis kota, kereta api bahkan sampai luar angkasa sekalipun. Tidak ada bidang yang tidak dimasuki oleh para wanita saat ini. Ditunjukkan bahwa posisi wanita harus setara dengan lelaki bahkan kalau mungkin melebihi. Sebenarnya mereka tidak sadar hanyut dalam kehidupan peradaban modern yang semu dan melalaikan. Sebagian besar berbangga hati dengan gerakan emansipasi wanita. disebutnya persamaan hak antara lelaki dan wanita sekarang merupakan produk serta indikator kemajuan.

Gerakan emansipasi yang dipelopori Barat menganggap bahwa pembagian manusia menjadi dua golongan laki-laki dan wanita dalam peranan sosial adalah suatu tindakan yang tidak adil.Selama ini mereka mempunyai hak dan dirampas oleh lelaki. Atau dengan kata lain bukan kodrat seorang wanita apabila harus menekuni tugas-tugas keibuan di rumah, mengasuh anak, menyusui dan membesarkan, tetapi hal itu merupakan politik bagi kaum lelaki untuk menindas wanita. Pekerjaan keibuan di rumah bukan berarti merupakan tanggung jawab wanita, bisa saja kaum lelaki yang mengerjakan. Juga pekerjaan berkarier di luar bukan semata-mata milik kaum lelaki tetapi kaum wanita juga berhak untuk mengerjakan.

Itulah awal wanita kehilangan cintanya pada rumah. Mereka berduyun-duyun memasuki tugas-tugas yang selama ini  di geluti oleh pria. Hatinya telah terpaut pada instansi-instansi, kantor, pabrik, dan kertas-kertas yang tak bernyawa. Sulit membedakan tugas dan fungsi lelaki dan wanita. Rumah tak lain hanya sebagai pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Hubungan antar anggota keluarga satu dengan lain menjadi tidak hangat. Bapak sibuk mencari nafkah, demikian pula ibu pun tak mau kalah dengan alasan meningkatkan kesejateraan keluarga atau untuk mengaktialisasikan diri ke tengah masyarakat. Akibatnya anak-anak sedari kecil hingga beranjak dewasa kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tua khususnya ibu. Para ibu akan lebih bangga apabila berhasil menjadi seorang wanita karier yang sukses ketimbang menjadi ibu rumah sukses yang mampu mendidik anak-anak dengan tuntunan akhlaq yang baik, melayani suami, serta mendorong karier suami.

Corong pertama yang menyuarakan gerakan emansipasi wanita adalah Barat kini sedang berusaha dengan giat meng’eksport’ ke negara-negara Timur Tengah atau negara-negara dengan berpenduduk mayoritas muslim. Barat menilai bahwa ajaran Islam telah ‘memperkosa’ hak-hak wanita. Islam tidak memberi kebebasan pada wanita untuk berkreasi dan berkarier di luar rumah. Ajaran Islam memasung keberadaan wanita hanya di dalam rumah. Ironisnya pemikiran-pemikiran tentang emansipasi yang dipelopori oleh gerakan feminisme sedikit banyak merasuki kalangan wanita Islam itu sendiri. Banyak tokoh-tokoh wanita dari negara-negara muslim justru merasa terpasung dengan ajaran Islam yang dianutnya. Sehingga banyak yang melontarkan ide-ide yang ‘nyeleneh’ tentang wanita dalam ajaran islam. Bahkan ada yang jelas-jelas mengatakan bahwa Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW harus mengalami revisi sehubungan penempatan posisi wanita dalam Islam. Na’udzu billahi min dzalik. Contohnya adalah Taslima Nasreem seorang tokoh feminisme radikal yang berasal dari Bangladesh dan dianggap figur ideal bagi Barat dalam upayanya menyuarakan ide deislamisasi.

Apakah benar apa yang di suarakan Barat lewat gerakan emansipasinya? Kalau diperhatikan secara seksama, negara-negara Barat yang kerap menyuarakan gerakan emansipasi acap kali memetik buah yang pahit. Banyak isyu-isyu yang berkembang mulai dari kasus pelecehan seksual terhadap wanita yang bekerja, kenakalan remaja akibat kurang kasih sayang kedua orang tua, meningkatnya angka perceraian sampai pada kecemasan menurunnya angka kelahiran yang disebabkan kecilnya angka wanita yang melahirkan. Atau dengan kata lain banyak wanita yang tidak mau repot punya anak sampai menunda usia perkawinan.  Dari laporan majalah Time disebutkan bahwa pada tahun 1950-an 9 % wanita ( Amerika ) berusia produktif ternyata tak memilliku seorang anakpun. Malah sekarang tahun 1980-1990-an 25 % dari wanita pekerja berlatar belakang perguruan tinggi dan berusia 35-45 tahun tidak memiliki anak. Jika saudara-saudara mereka yang lebih muda (25-35 tahun) juga tidak mau melahirkan, maka persentase wanita yang tidak mau melahirkan di Amerika luar biasa tingginya. Gerakan emanipasi bukan melahirkan suatu tatanan kehidupan yang harmonis justru yang di dapat adalah limbah yang amat kotor dan beracun.

Ternyata apa yang selama ini ditempuh oleh kebanyakan wanita di dunia dengan mengikuti arus emansipasi Barat ternyata bukan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita namun justru sebaliknya. Islam lah yang justru menenmpatkan wanita sesuai dengan porsinya, tidak menghinakan dan tidak pula mendewakan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Wanita menurut Islam adalah makhluk yang mulia dan mempunyai tugas, fungsi dan peranan menurut kodratnya. Benarkah Islam begitu menghalangi aktifitas wanita berkiprah di luar ? Tidakkah ada kesempatan bagi musilimah untuk mengaktualisasikan dirinya ? Islam, dien yang musyamil  telah menempatkan peran muslimah dalam  ummat ini

1. Sebagai ibu

Sejarah tidak pernah mengenal adanya agama atau sistem yang menghargai keberadaan wanita sebagai ibu yang lebih mulia dari pada Islam. Islam menjadikan berbuat kebaikan kepada wanita termasuk sendi-sendi kemuliaan, sebagaimana telah menjadikan hak seorang ibu lebih kuat daripadaa hak seorang bapak.Karena beban yang dirasakan amat berat ketika hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Sebagaimana firman Allah SWT :”Dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku , hanya kepada Kulah kembalimu.” (Luqman 14)

“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga pulu bulanan ….” (AlAhqaf 15)

Peran muslimah amat menentukan bagi kualitas generasi muslim yang tangguh. Pada saat Rasulullah SAW ditanya siapa yang paling patut dihormati dan dimuliakan, maka Rasulullah SAW menjwab “Ibumu”. Hal itu di ulang tiga kali, sebelum akhirnya beliau menjawab “bapak” mu. Peran ibu bagi seorang anak tak hanya sebatas melahirkan dan mengasuhnya, tetapi lebih dari itu perkembangan iman, psikologo, intelektual, sosial dan fisik amat ditentukanoleh ibunya. Dan ini menuntut ketrampilan bagaimana menjadi ibu yang baik. Keberadaan ibu yang telah diperhatikan oleh Islam denagan sepenuh perhatian ini dan yang telah diberikan untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan merka dari kerendahan.

2. Sebagai isteri

Sebagian agama dan sistem menganggap bahwa wanita sebagai barang najis atau sesuatau yang m menjijikkan, sebagian yang lain mengnggap bahwa kedudukan isteri sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya dan menjadikan pelayan dalam rumah tangganya. Islam datang untuk mensyiarkan bahwa kedudukan isteri adalah pelakasanaan hak-hak suami isteri sebagai jihad di jalan Allah SWT. Islam juga menjadikan isteri yang shalihah merupakan kekayaan yang paling berharga bagi suami setelah beriman kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : ” Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertakwa kepada Allah azza wa jalla yang lebih baik setelah isteri yang shalihah, jika suami menyuruhnya ia taat, jika dipandang ia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya ia mengiyakan, dan jika suami pergi jauh maka dia memelihara diri dan harta suaminya ” (HR.Ibnu Majah) Rasulullah SAW bersabda ,” Demi Rabb yang menguasai diriku, seorang wanita belum melakasanakan hak Rabbnya sebelum memenuhi hak suaminya “. (HR.Ibnu Hibban). Dalam Hadist  Rasulullah SAW bersabda, ” Andai saja aku dapat menyuruh seseorangbersujud pada manusia, niscaya aku perintahkan wanita sujud pada suaminya”. (HR.At-Turmudzi). Melayani suami merupakan prioritas utama bagi seorang isteri. Tak hanya waktu yang disediakan, tapi juga kualitas pelayanan dan ketekunan yang menakjubkan.

3. Sebagai anak

Bangsa Arab jahiliyyah pesimis dengan kelahiran anak-anak wanita dan mereka merasa hina . Sehingga ada tradisi yang memperbolehkan seorang ayah untuk mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut miskin dan menganggap aib di mata kaumnya. Islam datangdengan menganggap anak wanita seperti anak lelaki yaiti merupakan pemberian dan karunia Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya Allah befirman: “Kepunyaan Allah kerajaan di langit danbumi. Dia menciptakan apa saja yang ia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa saja yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki danperempuan (kepada yang Dia kehendaki), dan Dia menjadikan mandul kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia MAha Menegetahui lagi Maha Kuasa .” ( Asy-Syuara:49-50)

4. Berperan dalam masyarakat. Tersebar di kalangan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam bahwa Islam telah memenjarakan  wanita dalam rumah tidak boleh keluar . pakah demikan ajaran Islam. Tidak…sama sekali tidak, karena al Qur’an sebagai sandaran utama muslim menjadikan laki-laki dan wanita partner dan memiliki tanggung jawab yang terbesar dalam kehidupan, yaitu beramar ma’ruf dan nahi munkar. Allah SWT berfirman : ” Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereke menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan  Rasulnya….”(At Taubah 71). Apabila kita mempelajari shiroh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, banyak ditemui kiprah shahabiyah dalam dakwah dan memajukan Islam. Seperti Ummu Athiyah sebagai perawat dalam peperangan Rasulullah SAW, Ummu “Imarah pernah teruji dalam perang Uhud dan pada waktu pperangan dengan Musailammah Al Kadzhab ia kembali dengan sepuluh luka di tubuhnya.

Jika di suatu masa wanita telah terkungkung jauh dari ilmu pengetahuan dan dijauhkan dari kancah kehidupan, dibiarkan terus menerus tinggal di dalam rumah, tidak diberi kesempatan untuk belajar, maka dasarnya adalah kebodohan serta penyimpangan dari petunjuk Islam. Sesungguhnya tabiat Islam adalah tawazzun dan adil dalam segala aturannya serta segala seruannya, berupa hukum-hukum dan tata cara kehidupan. Islam tidak membesar-besarkan sesuatu dantiddak berlebihan terhadap yang lain. Oleh karena itu . Islam tidak memanjakan wanita dan tidak memperturutkan keinginan-keeinginan wanita  lebih di atas risalahnya. Sikap Islam terhadap wanita adalah :

a. Islam memelihara tabiat kodrati wanita yang telah diciptakan Allah SWT. Islam memelihara wanita dari cengkeraman orang-orang yang buas dan menginginkan secara haram. Memelihara wanita untuk dijadikan alat pengeruk keuntungan yang haram.

b. Islam menghormatitugas wanita yang mulia sesuai dengan fitrahnya. Diberikan kelebihan wanita daripada pria dalam perasaannya, yaitu rasa kasih sayangnya untuk menunaikan risalah keibuan.

c. Islam mengangap bahwa rumah sebagai kerajaan besar bagi wanita. Di sini wanita sebagai pengelolanya, ia sebagai isteri bagi suaminya, partner hidup, pelipur lara dan ibu bagi anak-anaknya. Sesungguhnya setipa alliran yang ingin mencabut wanita dari kerajaannya atas nama kebebabsan dan lain sebagainya, sebenarnya merupakan musuh bagi waita yang merampas segala sesuatu yang ada padanya.

Islam ingin membangun keluarga yang bahagia merupakan azas masyarakat yang bahagia pula. Keutuhan rumah tangga ditentukan dari kepercayaan antara suami dan isteri, bukan atas keraguan.

e. Islam mengizinkan kepada wanita untuk bekerja di luar rumah sepanjang pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan tabiatnya, spesialisainya dan kemampuannya serta tidaak menghilangkan naluri kewanitannya. Maka kerjanya diperbolehkan  selama dalam batas-batas dan persyaratan yang ada. Terutama jika keluarganya atau dia sendiri membutuhkan bekerja di luar rumah atau masyarakat memerlukan kerja khusus.

Sebenarnya tugas wanita yang pertama dan utama dan tidak ada pertentangan di dalamnya adalah mendidik generasi yang telah di persiapkan oleh Allah SWT. Tetapi bukan berati profesi di luar rumah di haramkan oleh Islam, karena kadang masyarakat sendiri menuntut kiprah wanita dalam rangka memajukan ummat ini. Apabila memperbolehkan wanita bekerja, maka wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu :

1. Pekerjaanya itu halal dan bukan pekerjaan yang haram, atau secara pasti mendukung tersebarnya sesuatu yang haram. Seperti bekerja sebagai sekertaris yang mengaharuskan berkhalwat dengan direkturnya, penarii yang mengundang syahwat, menjual barang haram seperti bir walaupun tidak ikut meminunya,

2.Pekerjaan itu tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaann

3. Memenuhi adab wanita muslim ketika keluar rumah. Seperti dalam berpakaian harus menutup seluruh auratnya, menghindari khalwah (berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya), berbicara tidak berlebihan, menghindari ikhtilath (Perbauran antara wanita dan pria), selalu menjaga pandangan (tawadhu’) dan melakukan gerak-gerik yang dappat menimbulkan syahwat lelaki.

4. Tetap menjaga hukum-hukum Islam sedapat mungkin dan berhati-hati agar tidak terjerembab pada jebakan-jebakan syaiton 5. Penebar dan penyebar nilai-nilai Islam.

Yang dituntut oleh masyarakt Islami adalah mengatur segala persoalan dan mempersiapkan sarana sehingga  wanita dapat bekerja apabila membawa kemaslahata bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya tanpa menghilangkan rasa malu atau bertentangan dengan kewajiban terhadap Rabbnya, dirinya, dan rumahnya.

Wallahu’alam bishowab

Daftar  Pustaka
1. Al Qur’anul Karim
2. Sistem masyarakat Islam dalam Al Qur’an dan sunnah, Dr Yusuf Qordhowi.
3. Majalah Ummi  No.8/VIII Tahun 1417 H/1996

  Online Staff