Emansipasi Wanita Adakah Dalam Islam ?

Gelombang Emansipasi yang ditiupkan oleh Barat pada awal abad 20 ini mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan wanita Islam. Dikemas dalam bentuk yang amat menarik, hingga mampu menyeret kaum Hawa untuk terjun ke bidang yang selama ini diisi oleh lelaki. Tak heran apabila sekarang banyak dijumpai wanita di jalan-jalan, lapangan sepak bola, berdesakan dalam bis kota, kereta api bahkan sampai luar angkasa sekalipun. Tidak ada bidang yang tidak dimasuki oleh para wanita saat ini. Ditunjukkan bahwa posisi wanita harus setara dengan lelaki bahkan kalau mungkin melebihi. Sebenarnya mereka tidak sadar hanyut dalam kehidupan peradaban modern yang semu dan melalaikan. Sebagian besar berbangga hati dengan gerakan emansipasi wanita. disebutnya persamaan hak antara lelaki dan wanita sekarang merupakan produk serta indikator kemajuan.

Gerakan emansipasi yang dipelopori Barat menganggap bahwa pembagian manusia menjadi dua golongan laki-laki dan wanita dalam peranan sosial adalah suatu tindakan yang tidak adil.Selama ini mereka mempunyai hak dan dirampas oleh lelaki. Atau dengan kata lain bukan kodrat seorang wanita apabila harus menekuni tugas-tugas keibuan di rumah, mengasuh anak, menyusui dan membesarkan, tetapi hal itu merupakan politik bagi kaum lelaki untuk menindas wanita. Pekerjaan keibuan di rumah bukan berarti merupakan tanggung jawab wanita, bisa saja kaum lelaki yang mengerjakan. Juga pekerjaan berkarier di luar bukan semata-mata milik kaum lelaki tetapi kaum wanita juga berhak untuk mengerjakan.

Itulah awal wanita kehilangan cintanya pada rumah. Mereka berduyun-duyun memasuki tugas-tugas yang selama ini  di geluti oleh pria. Hatinya telah terpaut pada instansi-instansi, kantor, pabrik, dan kertas-kertas yang tak bernyawa. Sulit membedakan tugas dan fungsi lelaki dan wanita. Rumah tak lain hanya sebagai pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Hubungan antar anggota keluarga satu dengan lain menjadi tidak hangat. Bapak sibuk mencari nafkah, demikian pula ibu pun tak mau kalah dengan alasan meningkatkan kesejateraan keluarga atau untuk mengaktialisasikan diri ke tengah masyarakat. Akibatnya anak-anak sedari kecil hingga beranjak dewasa kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tua khususnya ibu. Para ibu akan lebih bangga apabila berhasil menjadi seorang wanita karier yang sukses ketimbang menjadi ibu rumah sukses yang mampu mendidik anak-anak dengan tuntunan akhlaq yang baik, melayani suami, serta mendorong karier suami.

Corong pertama yang menyuarakan gerakan emansipasi wanita adalah Barat kini sedang berusaha dengan giat meng’eksport’ ke negara-negara Timur Tengah atau negara-negara dengan berpenduduk mayoritas muslim. Barat menilai bahwa ajaran Islam telah ‘memperkosa’ hak-hak wanita. Islam tidak memberi kebebasan pada wanita untuk berkreasi dan berkarier di luar rumah. Ajaran Islam memasung keberadaan wanita hanya di dalam rumah. Ironisnya pemikiran-pemikiran tentang emansipasi yang dipelopori oleh gerakan feminisme sedikit banyak merasuki kalangan wanita Islam itu sendiri. Banyak tokoh-tokoh wanita dari negara-negara muslim justru merasa terpasung dengan ajaran Islam yang dianutnya. Sehingga banyak yang melontarkan ide-ide yang ‘nyeleneh’ tentang wanita dalam ajaran islam. Bahkan ada yang jelas-jelas mengatakan bahwa Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW harus mengalami revisi sehubungan penempatan posisi wanita dalam Islam. Na’udzu billahi min dzalik. Contohnya adalah Taslima Nasreem seorang tokoh feminisme radikal yang berasal dari Bangladesh dan dianggap figur ideal bagi Barat dalam upayanya menyuarakan ide deislamisasi.

Apakah benar apa yang di suarakan Barat lewat gerakan emansipasinya? Kalau diperhatikan secara seksama, negara-negara Barat yang kerap menyuarakan gerakan emansipasi acap kali memetik buah yang pahit. Banyak isyu-isyu yang berkembang mulai dari kasus pelecehan seksual terhadap wanita yang bekerja, kenakalan remaja akibat kurang kasih sayang kedua orang tua, meningkatnya angka perceraian sampai pada kecemasan menurunnya angka kelahiran yang disebabkan kecilnya angka wanita yang melahirkan. Atau dengan kata lain banyak wanita yang tidak mau repot punya anak sampai menunda usia perkawinan.  Dari laporan majalah Time disebutkan bahwa pada tahun 1950-an 9 % wanita ( Amerika ) berusia produktif ternyata tak memilliku seorang anakpun. Malah sekarang tahun 1980-1990-an 25 % dari wanita pekerja berlatar belakang perguruan tinggi dan berusia 35-45 tahun tidak memiliki anak. Jika saudara-saudara mereka yang lebih muda (25-35 tahun) juga tidak mau melahirkan, maka persentase wanita yang tidak mau melahirkan di Amerika luar biasa tingginya. Gerakan emanipasi bukan melahirkan suatu tatanan kehidupan yang harmonis justru yang di dapat adalah limbah yang amat kotor dan beracun.

Ternyata apa yang selama ini ditempuh oleh kebanyakan wanita di dunia dengan mengikuti arus emansipasi Barat ternyata bukan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita namun justru sebaliknya. Islam lah yang justru menenmpatkan wanita sesuai dengan porsinya, tidak menghinakan dan tidak pula mendewakan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Wanita menurut Islam adalah makhluk yang mulia dan mempunyai tugas, fungsi dan peranan menurut kodratnya. Benarkah Islam begitu menghalangi aktifitas wanita berkiprah di luar ? Tidakkah ada kesempatan bagi musilimah untuk mengaktualisasikan dirinya ? Islam, dien yang musyamil  telah menempatkan peran muslimah dalam  ummat ini

1. Sebagai ibu

Sejarah tidak pernah mengenal adanya agama atau sistem yang menghargai keberadaan wanita sebagai ibu yang lebih mulia dari pada Islam. Islam menjadikan berbuat kebaikan kepada wanita termasuk sendi-sendi kemuliaan, sebagaimana telah menjadikan hak seorang ibu lebih kuat daripadaa hak seorang bapak.Karena beban yang dirasakan amat berat ketika hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Sebagaimana firman Allah SWT :”Dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku , hanya kepada Kulah kembalimu.” (Luqman 14)

“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga pulu bulanan ….” (AlAhqaf 15)

Peran muslimah amat menentukan bagi kualitas generasi muslim yang tangguh. Pada saat Rasulullah SAW ditanya siapa yang paling patut dihormati dan dimuliakan, maka Rasulullah SAW menjwab “Ibumu”. Hal itu di ulang tiga kali, sebelum akhirnya beliau menjawab “bapak” mu. Peran ibu bagi seorang anak tak hanya sebatas melahirkan dan mengasuhnya, tetapi lebih dari itu perkembangan iman, psikologo, intelektual, sosial dan fisik amat ditentukanoleh ibunya. Dan ini menuntut ketrampilan bagaimana menjadi ibu yang baik. Keberadaan ibu yang telah diperhatikan oleh Islam denagan sepenuh perhatian ini dan yang telah diberikan untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan merka dari kerendahan.

2. Sebagai isteri

Sebagian agama dan sistem menganggap bahwa wanita sebagai barang najis atau sesuatau yang m menjijikkan, sebagian yang lain mengnggap bahwa kedudukan isteri sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya dan menjadikan pelayan dalam rumah tangganya. Islam datang untuk mensyiarkan bahwa kedudukan isteri adalah pelakasanaan hak-hak suami isteri sebagai jihad di jalan Allah SWT. Islam juga menjadikan isteri yang shalihah merupakan kekayaan yang paling berharga bagi suami setelah beriman kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : ” Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertakwa kepada Allah azza wa jalla yang lebih baik setelah isteri yang shalihah, jika suami menyuruhnya ia taat, jika dipandang ia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya ia mengiyakan, dan jika suami pergi jauh maka dia memelihara diri dan harta suaminya ” (HR.Ibnu Majah) Rasulullah SAW bersabda ,” Demi Rabb yang menguasai diriku, seorang wanita belum melakasanakan hak Rabbnya sebelum memenuhi hak suaminya “. (HR.Ibnu Hibban). Dalam Hadist  Rasulullah SAW bersabda, ” Andai saja aku dapat menyuruh seseorangbersujud pada manusia, niscaya aku perintahkan wanita sujud pada suaminya”. (HR.At-Turmudzi). Melayani suami merupakan prioritas utama bagi seorang isteri. Tak hanya waktu yang disediakan, tapi juga kualitas pelayanan dan ketekunan yang menakjubkan.

3. Sebagai anak

Bangsa Arab jahiliyyah pesimis dengan kelahiran anak-anak wanita dan mereka merasa hina . Sehingga ada tradisi yang memperbolehkan seorang ayah untuk mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut miskin dan menganggap aib di mata kaumnya. Islam datangdengan menganggap anak wanita seperti anak lelaki yaiti merupakan pemberian dan karunia Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya Allah befirman: “Kepunyaan Allah kerajaan di langit danbumi. Dia menciptakan apa saja yang ia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa saja yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki danperempuan (kepada yang Dia kehendaki), dan Dia menjadikan mandul kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia MAha Menegetahui lagi Maha Kuasa .” ( Asy-Syuara:49-50)

4. Berperan dalam masyarakat. Tersebar di kalangan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam bahwa Islam telah memenjarakan  wanita dalam rumah tidak boleh keluar . pakah demikan ajaran Islam. Tidak…sama sekali tidak, karena al Qur’an sebagai sandaran utama muslim menjadikan laki-laki dan wanita partner dan memiliki tanggung jawab yang terbesar dalam kehidupan, yaitu beramar ma’ruf dan nahi munkar. Allah SWT berfirman : ” Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereke menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan  Rasulnya….”(At Taubah 71). Apabila kita mempelajari shiroh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, banyak ditemui kiprah shahabiyah dalam dakwah dan memajukan Islam. Seperti Ummu Athiyah sebagai perawat dalam peperangan Rasulullah SAW, Ummu “Imarah pernah teruji dalam perang Uhud dan pada waktu pperangan dengan Musailammah Al Kadzhab ia kembali dengan sepuluh luka di tubuhnya.

Jika di suatu masa wanita telah terkungkung jauh dari ilmu pengetahuan dan dijauhkan dari kancah kehidupan, dibiarkan terus menerus tinggal di dalam rumah, tidak diberi kesempatan untuk belajar, maka dasarnya adalah kebodohan serta penyimpangan dari petunjuk Islam. Sesungguhnya tabiat Islam adalah tawazzun dan adil dalam segala aturannya serta segala seruannya, berupa hukum-hukum dan tata cara kehidupan. Islam tidak membesar-besarkan sesuatu dantiddak berlebihan terhadap yang lain. Oleh karena itu . Islam tidak memanjakan wanita dan tidak memperturutkan keinginan-keeinginan wanita  lebih di atas risalahnya. Sikap Islam terhadap wanita adalah :

a. Islam memelihara tabiat kodrati wanita yang telah diciptakan Allah SWT. Islam memelihara wanita dari cengkeraman orang-orang yang buas dan menginginkan secara haram. Memelihara wanita untuk dijadikan alat pengeruk keuntungan yang haram.

b. Islam menghormatitugas wanita yang mulia sesuai dengan fitrahnya. Diberikan kelebihan wanita daripada pria dalam perasaannya, yaitu rasa kasih sayangnya untuk menunaikan risalah keibuan.

c. Islam mengangap bahwa rumah sebagai kerajaan besar bagi wanita. Di sini wanita sebagai pengelolanya, ia sebagai isteri bagi suaminya, partner hidup, pelipur lara dan ibu bagi anak-anaknya. Sesungguhnya setipa alliran yang ingin mencabut wanita dari kerajaannya atas nama kebebabsan dan lain sebagainya, sebenarnya merupakan musuh bagi waita yang merampas segala sesuatu yang ada padanya.

Islam ingin membangun keluarga yang bahagia merupakan azas masyarakat yang bahagia pula. Keutuhan rumah tangga ditentukan dari kepercayaan antara suami dan isteri, bukan atas keraguan.

e. Islam mengizinkan kepada wanita untuk bekerja di luar rumah sepanjang pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan tabiatnya, spesialisainya dan kemampuannya serta tidaak menghilangkan naluri kewanitannya. Maka kerjanya diperbolehkan  selama dalam batas-batas dan persyaratan yang ada. Terutama jika keluarganya atau dia sendiri membutuhkan bekerja di luar rumah atau masyarakat memerlukan kerja khusus.

Sebenarnya tugas wanita yang pertama dan utama dan tidak ada pertentangan di dalamnya adalah mendidik generasi yang telah di persiapkan oleh Allah SWT. Tetapi bukan berati profesi di luar rumah di haramkan oleh Islam, karena kadang masyarakat sendiri menuntut kiprah wanita dalam rangka memajukan ummat ini. Apabila memperbolehkan wanita bekerja, maka wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu :

1. Pekerjaanya itu halal dan bukan pekerjaan yang haram, atau secara pasti mendukung tersebarnya sesuatu yang haram. Seperti bekerja sebagai sekertaris yang mengaharuskan berkhalwat dengan direkturnya, penarii yang mengundang syahwat, menjual barang haram seperti bir walaupun tidak ikut meminunya,

2.Pekerjaan itu tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaann

3. Memenuhi adab wanita muslim ketika keluar rumah. Seperti dalam berpakaian harus menutup seluruh auratnya, menghindari khalwah (berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya), berbicara tidak berlebihan, menghindari ikhtilath (Perbauran antara wanita dan pria), selalu menjaga pandangan (tawadhu’) dan melakukan gerak-gerik yang dappat menimbulkan syahwat lelaki.

4. Tetap menjaga hukum-hukum Islam sedapat mungkin dan berhati-hati agar tidak terjerembab pada jebakan-jebakan syaiton 5. Penebar dan penyebar nilai-nilai Islam.

Yang dituntut oleh masyarakt Islami adalah mengatur segala persoalan dan mempersiapkan sarana sehingga  wanita dapat bekerja apabila membawa kemaslahata bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya tanpa menghilangkan rasa malu atau bertentangan dengan kewajiban terhadap Rabbnya, dirinya, dan rumahnya.

Wallahu’alam bishowab

Daftar  Pustaka
1. Al Qur’anul Karim
2. Sistem masyarakat Islam dalam Al Qur’an dan sunnah, Dr Yusuf Qordhowi.
3. Majalah Ummi  No.8/VIII Tahun 1417 H/1996