Generasi AL IZZAH Bertekad Membangun Indonesia Menjadi Bangsa Yang Bermartabat

Orasi

International Islamic Boarding School, Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan bangsa indonesia, seluruh santri, guru dan civitas AL IZZAH mengadakan ceremoni untuk mengenang dan berdoa untuk para Syuhada yang sudah berjuang di medan jihad di bumi Indonesia,  merekalah yang berjuang membebaskan indonesia dari cengkraman kedholiman penjajah terhadap rakyat yang lemah dan tak berdaya. Kegiatan ini diadakan di lapangan serbaguna area barat AL IZZAH, sebelum masuk pada kegiatan inti, para santriwati mengisi kegiatan parade baris berbaris yang cukup aktraktif diikuti dengan antusiasme yang cukup tinggi dari santri lainnya. Pada kegiatan inti yaitu sambutan yang disampaikan oleh Direktur Pendidikan LPMI AL IZZAH, Ust Maftuhin, M. Pdi. Dalam sambutan ini, beliau menyampaikan pentingnya generasi muda, khususnya santriwati Al Izzah untuk meneladani bagaimana pejuang-pejuang muslim seperti Cut Nya Din,  Tengku Umar, P Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol mempertaruhkan jiwa dan raga dalam menegakkan Jihad fi sabilillah melawan kedzoliman kolonialisme di bumi Indonesia.  Tentunya diharapkan santri AL IZZAH bisa melanjutkan perjuangan dengan menjadi generasi mujahidah dalam mewujudkan indonesia menjadi bangsa yang bertauhid dan bermartabat.

Dari seluruh rangkaian kegiatan yang kami laksanakan, ada satu orasi dari perwakilan santri yang membuat kita merenung begitu dalam tentang arti sebuah kemerdekaan, berikut salah satu kutipan yang sangat memotivasi semangat para santriwati AL IZZAH

“Semua orang di dunia ini tahu, Indonesia, negara kita ini adalah negara yang

Dinobatkan sebagai salah satu negara terkaya menurut sumber daya alamnya (SDA). Dari mulai

Rempah, kayu, sayur-mayur, tambang, semuaa.. Indonesia hampir memiliki semuanya.. Tapi sayang, Satu-satunya yang tidak dimiliki Indonesia adalah keberanian dan kemampuan.

Kita bisa saja Merengek, menghujat, bahkan mencaci mereka, para investor asing, yang telah merebut kekayaan Sumber Daya Alam kita. Tapi, kawan.. Adakah diantara kita yang mampu mengelolanya? Adakah diantara kita yang mampu memanfaatkannya? Adakah diantara kita yang mampu dan berani merebutnya kembali? ADAKAH?!

                Saya tahu, dan anda semua tahu jawabannya.

                Jangan selalu saja ‘asal nyeplos’ tentang mereka. Jangan pula memulu menyalahkan mereka.  Kalau bukan karena mereka yang ‘mencuri’ aset kita, mungkin kita tidak akan pernah sadar bahwa kekayaan kita ini melimpah. Selain itu, pendapatan negara kita bisa saja mengalami penurunan drastis.

Tapi  kawan, jangan sepenuhnya juga berterima kasih kepada mereka. Yang mereka ‘curi’ adalah rezeki Allah untuk kita, untuk saudara-saudara kita yang kelaparan, untuk mereka para gelandangan dan anak jalanan, itu semua adalah hak kita, bukan mereka.

Semua fakta ini memuculkan pertanyaan di benak saya,

“Apakah kita akan menutup sejarah Indonesia hanya sebagai seonggok budak di negeri sendiri?”

                Disini kita hanya bisa menjadi penonton. Membiarkan negri ini mengulang kembali

kisah-kisah kelamnya. Membiarkan negri ini mengulang kembali sejarah-sejarah mengenaskannya.

Kemiskinan, kriminalitas, pengangguran, pornografi, pendidikan terbelakang, seakan-akan tak ada satupun lini dari negri ini yang bisa diselamatkan.

Tapi kawan!

Ingatlah kalian kepada pada para pejuang tanah air ini!

Yang setiap tetes darahnya, mereka ikhlaskan.

Yang setiap tetes air matanya mereka persembahkan untuk Masa depan negri ini. Masa depan

generasi ini. Hanya untuk masa depan kita, Umat islam Indonesia!

Bangkitlah kawan, Masa depan negri ini adalah tanggung jawab kita bersama!

Bangkit.

Bangkit itu susah, susah melihat orang lain susah

                                                Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu takut, takut korupsi

                                                Takut tak bisa penuhi janji

Bangkit itu mencuri, mencuri perhatian luar negri akan eksistensi negeri ini

Bangkit itu marah, marah ketika martabat agama dilecehkan

                                                 Marah ketika harga diri negara di jatuhkan

Bangkit itu malu, malu jadi benalu

                                                 Malu karena hanya minta melulu

Bangkit itu tidak ada, tidak ada kata menyerah

                                                Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu adalah aku, aku untuk Indonesiaku.

                                                                Orasi Kemerdekaan. Mafaza R. Aisy, kelas XI SMA AL IZZAH”