Gerhana Merupakan Bentuk Bantahan Allah Pada Fenomena Penyembahan Pada Matahari dan Bulan

Gerhana Bulan terjadi pada  31 Januari 2018 boleh disebut Super-Blue-Blood-Moon. Supermoon. Yakni karena jarak bulan masih terdekat dengan bumi. Sehingga purnama dan gerhana tampak lebih besar dari biasanya. Kemudian karena disebut Blue moon karena ini purnama kedua pada bulan Januari, setelah 1 Januari lalu. Selain itu gerhana bulan total juga sering disebut Blood Moon karena saat gerhana total bulan tampak merah darah.

Gerhana bulan dalam bahasa Arab disebut “khusuf”. Dalam Islam saat terjadi fenomena gerhana bulan kita dianjurkan untuk mengerjakan salat sunah dua rakaat atau disebut juga salat sunah khusuf. Ulama bersepakat bahwa salat sunah ini hukumnya sunah muakkad baik bagi laki-laki atau perempuan. Al-Izzah melaksanakan salat sunah dua rakaat berjamaah yang diikuti  oleh seluruh santri SMP dan SMA, pada pukul 20.00 WIB.

Gerhana bulan dan matahari merupakan fenomena alam yang sudah ada sejak jutaan tahun lalu. Kemunculan fenomena ini dapat diprediksi dan dapat diperhitungkan. Pergantian antara bulan dan matahari berjalan sangat teratur. Ada hukum ketetapan yang telah mengaturnya. Dalam Alquran, hal ini dijelaskan pada Surat Ar Rahman ayat 5.

” Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.

Pada titik tertentu, peredaran bulan akan menimbulkan gerhana. Sebuah peristiwa ketika bulan, bumi, dan matahari, berada pada posisi sejajar. Semua telah digariskan oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Gerhana merupakan pertanda keagungan dari kekuasaan Allah yang begitu sempurna.

Selain itu, gerhana juga merupakan bentuk bantahan Allah pada fenomena penyembahan pada matahari dan bulan. Keyakinan yang menempatkan matahari dan bulan sebagai sesembahan dianut oleh bangsa-bangsa besar zaman dulu.

Dalam Surat Al Fushshilat ayat 37, Allah SWT berfirman,

” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.

Rasulullah Muhammad SAW sendiri menjelaskan gerhana tidaklah terkait dengan kelahiran atau kematian seseorang. Kejadian ini murni sebagai fenomena alam. Penjelasan ini tertuang dalam hadis riwaya Bukhari dan Muslim.

” Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.