Menerapkan Pendidikan Anak Dengan Sistem Jari Tangan

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya sukses. Tidak terkecuali seorang pendidik, juga berharap anak didiknya menjadi orang yang sukses. Sukses di sini memiliki makna yang luas. Sukses tidak hanya di dunia, melainkan juga sukses di akhirat, atau bahkan sukses di dunia dan akhirat.

 

Banyak orang beranggapan, sukses itu jika apa yang mereka cita-citakan atau harapkan dapat tercapai. Misalnya jika masih kecil bercita- cita menjadi dokter, guru, pilot, atau mungkin yang lain. Kemudian dia berusaha maksimal, seiring berjalanya waktu dan “bertambahnya usia” pada akhirnya mereka dapat meraih mimpinya di waktu kecil tersebut.

 

Sedangkan menurut pakar “Kesuksesan adalah ketika seseorang mampu meraih hal yang menjadi target atau cita-citanya” ungkap Aulia Qiranawangsih. Sedangkan menurut pendapat Dr. John C. Maxwell “first of all, success is knowing our purpose in life”.. Berbeda lagi menurut islam, sukses adalah ketika seseorang dapat mensyukuri pemberian Allah, mendapat ridlo Allah, dan mennggal khusnul khotimah.

 

Berdasarkan uraian di atas, kesuksesan tidak bisa diraih tanpa adanya pengajaran, pelatihan, dan pendidikan. Dalam hal ini ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mencapai beberapa hal tersebut, diantaranya: harus adanya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Selain itu juga ada konsep yang perlu dilakukan. “Seven Steps to Success” Pertama, Make a commitment to grow daily. Kedua, Value the process more than events.

 

Ketiga, Don’t wait for inspiration. Keempat, Be willing to sacrifice pleasure for opportunity. Kelima, Dream big. Keenam, Plan your priorities. Ketujuh, Give up to go up.” Artinya ada proses untuk meraih sukses (bukan hanya mengetahui saja), ada komitmen, pengorbanan, impian, rencana, dan pantang menyerah.

 

Kemudian yang menjadi pertanyaan sekarang, pendidikan macam apa yang tepat untuk meraih sukses tersebut? Banyak orang tua atau pendidik sering kurang tepat dalam memberikan pendidikan kepada putra- putrinya. Bahkan dengan berbagai cara dilakukan. Tidak peduli berapa banyak dana dikeluarkan untuk kesuksesan putra atau putrinya.

 

Bahkan ada orang tua yang tidak memikirkan sejauh mana kemampuan putra putrinya. Terkadang hanya mementingkan emosinya saja, serta tidak berfikir jauh ke depan terhadap dampak yang akan dialaminya. Selain itu juga banyak orang tua memaksakan kehendaknya untuk kesuksesan anaknya. Hal ini sering terjadi pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat dalam menentukan program penjurusan yang akan dipilihnya.

 

Sebagai contoh, seorang anak yang memiliki kemampuan di bidang sosial, karena orang tua punya harapan terlalu tinggi kepada anaknya supaya unggul di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan harapan nantinya anak tersebut bisa menjadi dokter, arsitek, atau disainer, atau yang lainnya. Maka orang tua tersebut memaksakan anaknya untuk masuk di program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

 

Begitu juga sebaliknya, jika anak memiliki kemampuan di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) karena orang tua kasihan kepada anak supaya tidak berfikir terlalu berat maka, dipaksalah anak masuk di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hal ini menjadi bumerang tersendiri dipikiran anak, sehingga malas belajar, tidak semangat, suka mengeluh, dampaknya akan menghambat cita-cita masa depannya. Sehingga anak yang menjadi kurban.

 

Hal ini sebenarnya tidak baik untuk masa depan anak jika orang tua faham. Jika ini yang terjadi maka semangat atau antusias anak untuk belajar bisa jatuh dan bisa juga prestasi anak tidak bisa diraih dengan maksimal. Di sisi lain seorang anak juga belum bisa meyakinkan apa yang menjadi pilihannya.

 

Oleh sebab itu supaya kita tidak salah dalam mendidik anak, marilah kita mengkaji Al Qur’an, surat Ar Rum ayat 28 yang artinya:“Dia membuat perumpamaan dalam dirimu sendiri… Demikian kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengerti. Dalam ayat 30 juga ditegaskan”…tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti”. Dalam isi ayat tersebut dijelaskan bahwa dalam diri kita banyak ilmu yang bisa kita dapat untuk dijadikan pelajaranatau pedoman. Salah satunya dalam jari tangan. Namun banyak orang yang belum faham dan mengerti. Oleh sebab itu melalui tulisan yang sederhana ini kami akan mengulas pendidikan melalui jari tangan, sesuai judul kajian tersebut.

 

Pada prinsipnya Allah menghadirkan kita ke dunia ini hanya diberi satu kelebihan yang menonjol dan satu kekurangan. Hal itu tidak bisa dielak, dipungkiri, atau ditolak. Sebagai contoh di sekitar lingkungan kita banyak orang sukses karena menekuni salah satu bidang ilmu. Satu bidang itulah kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT.

 

Misalnya adanya profesor, doktor, guru besar, seperti Alfred Bernhard Nobel (penemu dinamit), Isaac Newton (penemu grafitasi), James Watt (penemu bola lampu), selain itu juga masih ada Ibnu Sina, Ibnu kholdun, yang ahli di bidang kedokteran, serta Umar Khayyam yang ahli di bidang matematika, dan banyak lagi ilmuwan yang sukses karena satu bidang ilmu.

 

Berdasarkan uraian dia atas, jika kita mengkaji dari jari tangan maka, sudah jelaslah bahwa Allah memberikan kita satu kelebihan yang ditunjukan dengan jari tengah yang perlu kita pupuk dan tumbuh kembangkan. Sehingga kita menjadi orang sukses. Begitu juga dengan kekurangan kita yang harus kita sadari dan ditunjukan dengan jari kelingking. Jika itu semua kita gabungkan maka kesuksesan akan kita raih dengan ditunjukan dengan ibu jari.

 

Inilah pendidikan islam yang perlu diketahui dan difahami oleh orang tua. Selain itu orang tua juga harus faham tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh anaknya. Misalnya seorang anak memiliki kelebihan di bidang matematika, fisika, biologi, bahasa, atau sosial, sebaiknya orang tua mendukung anak menekuni salah satu bidang tersebut. Sehingga kesuksesan akan segera diraih.

 

Bukan memberikan pelatihan atau pendidikan di bidang yang tidak mampu, karena jika ini yang dilakukan maka kesuksesan sulit dicapai karena pada dasarnya itu merupakan kelemahannya. Meskipun dengan berbagai cara untuk menggungguli atau bahkan menyamakan tetap saja sulit untuk menandingi kelebihannya.

 

Apabila pendidikan sistem jari tangan ini yang diterapkan dalam pendidikan maka, orang tua tidak langsung menjustificasi anak untuk mengikuti kemauan orang tua yang punya harapan terlalu tinggi berdasarkan emosi, gengsi, yang tidak berlandaskan realita yang ada atau daya pikir yang jernih.

 

Jika ini yang dilakukan maka kita tidak salah dalam memberikan pendidikan kepada anak. Pada akhirnya tunggulah kesuksesan akan segera dicapai sesuai harapan semua. Yang ditunjukan dengan ibu jari atau jempol sebagai tanda kesuksesan yang telah diraih dengan baik dan mendapat prestasi yang terbaik.