Numa & Diva ; Kakak Beradik Bervisi Mujahidah

Kakak beradik yang tak pernah absen berada di shaf terdepan shalat jamaah di masjid Baitul Izzah. Biasanya Numa tepat berada di sebelah kanan imam, mengumandangkan iqomah. Di sebelahnya lagi, sang kakak, Diva yang juga istiqomah datang awal di masjid.

 

NUMA KALILA TAFTAZANI, santri kelas VII, lahir di Probolinggo 12 tahun yang lalu. Suatu hari, Numa menyampaikan izin kepada ustadzah murabbiyah yang sedang kontrol dzikir memantau santri yang mengantuk. Numa yang saat itu sebenarnya tidak terlihat (karena posisi ustadzah kebetulan sedang membelakanginya), mempunyai peluang untuk tidur tanpa mendapat konsekuensi diberdirikan, namun nyatanya ananda malah mengajukan izin “ Ustadzah, saya izin untuk berdiri karena mengantuk.” Kondisi yang langka menurut saya, di tengah santri lain yang biasanya enggan berdiri (mengajukan banyak alasan agar tidak diberdirikan) meskipun jelas terlihat saat mengantuk.

Ananda juga peka mempersiapkan sajadah untuk ustadzah yang menjadi imam dan juga mengambilkan microphone untuk ustadzah memandu dzikir, yup ananda melakukan itu semua tanpa disuruh. Ketika suatu kali, ananda melihat ustadzahnya kesulitan membawa barang bawaan saat mengantar anak sakit ke UKS, ananda dengan sigap menawarkan bantuan untuk membawakan padahal jarak ananda melihat kondisi itu cukup jauh (ustadzah berada di lantai 2, sedangkan ananda berada di lantai 1, biasanya santri tidak peka meskipun jarak dekat saat melihat ustadzahnya membutuhkan bantuan, atau ustadzahnya harus meminta tolong terlebih dahulu). Namun, berbeda dengan Numa. Numa yang berada di lantai 1 segera berlari ke lantai 2 setelah selintas melihat ustadzahnya kesulitan membawa perlengkapan santri sakit. “ Ustadzah, saya mohon izin membawakan barang-barangnya, sepertinya ustadzah kesulitan membawanya. “

Di sisi lain, Diva, yang mempunyai nama lengkap MUWAHIDDAH NADHOFATUL MARDLIYAH, sang kakak… terlihat begitu peduli dengan lingkungan. Ananda dengan lincah mengambili sampah dan membuangnya ke tempat sampah. Ananda juga sigap menyingkirkan benda yang sekiranya berbahaya di jalan seperti duri atau batu. Ananda juga terbiasa merapikan sendal-sendal yang terlihat tidak rapi, baik di kamar ataupun masjid dan sekolah. Tanpa disuruh.

Yuk mengenal lebih dekat Numa dan Diva.
Numa dan Diva merupakan santri yang bersekolah di SMP Al Izzah. Numa di kelas VII, sedangkan kakaknya, Diva di kelas IX. Numa lahir tanggal 29 Mei 2003. Ananda yang hobi membaca Al Qur’an, sholawatan, bermain karambol dan sepatu roda, menggambar dan mempelajari nada-nada pembacaan Al Qur’an ini mempunyai cita-cita menjadi hafidzah, menjadi ustadzah yang ilmunya bermanfaat dunia akhirat, menjadi anak sholehah yang dapat membahagiakan kedua orang tuanya. Kebiasaan yang ananda lakukan yaitu berwudhu sebelum tidur dan bangun tidur, menunggu waktu sholat sambil mempelajari ilmu-ilmu Al Qur’an (nada, tajwid, makhrijul huruf), menghafal Al Qur’an sambil memahami terjemahannya, berani mengingatkan teman yang berbuat kesalahan dan juga seperti kakaknya, Numa senang merapikan sandal tanpa disuruh.

Sedangkan Diva, lahir di Surabaya, 6 Mei 2001, ananda yang mempunyai hobi berolahraga ini bercita-cita menjadikan banyak orang non muslim sebagai muallaf dan mengantarkan keluarga, saudara dan teman-temannya untuk sama-sama meraih surga Allah SWT. Ananda berusaha untuk senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada siapapun di sekitarnya, tidak peduli mereka akan menerima ajakan kebaikannya atau malah marah. Ananda ikhlas melakukannya semata untuk mendapat ridha Allah SWT.

Baik Numa maupun Diva merasa senang dan beruntung bisa bersekolah di SMP Al Izzah. Ananda berdua mengaku menjadi lebih disiplin, lebih dekat dengan Al Qur’an, lebih semangat mempelajari ilmu agama dan mendorong ananda berdua untuk selalu berdakwah di manapun berada.
Subhanallah.. semoga cita-cita ananda berdua sukses dunia akhirat. Kebiasaan-kebiasaan positif ananda berdua semoga menginspirasi kita semua untuk semakin meningkatkan kualitas amal sholeh di hadapan Allah SWT.

Barangsiapa sibuk menanam padi, maka rumput akan tumbuh dengan sendirinya, ssebagaimana kita sibuk dengan urusan akhirat, maka dunia akan mengikuti dengan sendirinya..

Namun barangsiapa sibuk menanam rumput, tak akan pernah menuai panen padi seperti ketika kita sibuk dengan dunia, maka tak akan sukses kita menuai kebaikan di akhirat..

 NUMA & DIVA