LOGIN FORM

Untuk Mengakses Sistem Administrasi & Akademik

SDM Orang Tua

 

Artikel Guru

Profile Guru Masa Depan dan Hubungannya dengan Konteks Pendidikan Masa Kini

Minggu siang tanggal 8-17 Juli 2012 saya berkesempatan mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) selama sepuluh hari di Hotel Victory Kota Batu. Adapun tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru, khususnya dalam peningkatan aspek profesionalisme, aspek pedagogik, aspek kepribadian, dan aspek sosial. Kegiatan tersebut diikuti oleh 11.000 guru dengan PSG (pusat sertifikasi guru) adalah Universitas Negeri Malang (belum universitas lain seperti UIN, UMM dan UNISMA), dengan pelaksanaan 9 tahapan. Adapun saya termasuk peserta tahap 7 dengan jumlah peserta 250 calon guru sertifikasi.

Alangkah terkejutnya saya bahwa peserta sertifikasi ini adalah guru-guru dari sekolah negeri di daerah pelosok, seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungagung dan Ponorogo. Iseng-iseng saya bertanya apa sih tujuan dari pelaksanaan PLPG ini kira-kira menurut bapak ibu, dengan santai beliau menjawab supaya kita lebih profesional dan mendapatkan satu kali tunjungan gaji. Pertanyaan itu saya tanyakan lebih dari 5 (lima) orang peserta, dan semua jawaban hampir sama dengan konteks yang berbeda. Kekagetan ke-dua ketika saya melihat jadwal pelaksanaanya, pada hari pertama kami diberi materi tentang kebijakan nasional pendidikan, khsususnya tentang sertifikasi guru.

Hari kedua, ketiga dan keempat kami diberi materi pengayaan pembelajaran IPA, meliputi Biologi, Fisika dan Kimia, pada hari ke kelima dan keenam diberikan materi dan worshop tentang pembuatan Silabus dan RPP (bagaimana membuat dan merencanakan alokasi waktu, standart kompetensi, merumuskan kompetensi dasar, merumuskan indikator dan tujuan, mendesain materi pembelajaran, menentukan model dan metode pembelajaran, menyusun skenario/  langkah-langkah pembelajaran, menentukan sumber belajar dan membuat instrumen penilaian).

Pada hari ketujuh kami  mendapatkan materi dan workshop tentang penelitian tindakan kelas, sedangkan pada hari ke delapan dan kesembilan kami  melakukan peer teaching dengan teman sekelas. Di hari terakhir kami melakukan uji kompetensi ulang dengan bentuk soal pilihan dan uraian. Berdasarkan info dari panitia bahwa guru yang telah mengikuti agenda kegiatan tersebut secara disiplin dan dapat mengerjakan soal uji kompetensi dengan nilai minimal 65, maka guru tersebut layak mendapatkan predikat guru tersertifikasi dengan sebutan guru profesional. Benarkah demikian??? Bukankah melihat dari agenda kegiatan PLPG tersebut hampir yang dilatihkan adalah aspek pedagogisnya saja.

Pertanyaan besar selanjutnya adalah akankah bentuk pelatihan ini berdampak signifikan terhadap kesuksesan dan kepribadian anak didiknya??? Jawabannya BELUM TENTU, terlebih jika kita mengacu kepada para ulama terdahulu dalam mentransver ilmunya, berikut kaidah filosofinya yang selalu di pegang ulama terdahulu:Attoriqotuh ahammu minal madah, Walmudarrisuh ahammu mina thoriqo, Wa ruhul mudarrisuh ahammu minal mudarrisi nafsihi, yang artinya metode itu lebih penting daripada materi yang diajarkan, seorang guru lebih penting daripada metode yang dipakai, ruh seorang guru lebih penting daripada guru itu sendiri.

Berdasarkan qoul para ulama tersebut ada tahapan-tahapan yang harus dilalui seorang guru selaku pendidik dan murobbi yang harus disiapkan, mulai dari bersifat sederhana sampai hal yang bersifat substansial, yaitu (1) materi yang diajarkan, (2) metode yang digunakan, (3) keberadaan guru itu sendiri, dan (4) yang paling penting adalah ruh seorang guru itu sendiri. Bahkan terkait ruh sebagai penanda keikhlasan seorang guru, terdapat cerita yang menarik ketika Rosulullah SAW ditanya oleh seseorang, kok bisa dalam waktu yang cukup singkat dengan majlis ilmu yang sangat sederhana (Darul Arqom) dapat membuat peradapan yang luar biasa, kemudian Rosulullah meminta Sayyidina Ali menjawabnya dengan qoul yang sangat indah dan luar biasa Maa Khorojah Minal Lisan Dakholal Adan, Wa Maa Khorojah Minal Jinan Dakholal Jinan“ Apa-apa yang keluar dari lisan akan diterima oleh telinga. Apa-apa yang keluar dari hati akan diterima oleh hati”.

Berdasarkan uraian diatas sangatlah jelas bahwa pelaksanaan PLPG hanya berkutat pada persoalan materi pelajaran dan bagaimana metode mengajarkannya. Padahal tujuan akhir dari project pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) yang menghabiskan banyak anggaran ini adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru dan mencetak generasi emas untuk bangsa Indonesia selanjutnya. Benarkah cara yang ditempuh ini…..Wallahua’lam… Semoga bermanfaat.
[M. Ali Wahyudi, Kepala SMP Al-Izzah]

 

Share

Student Events
  • User sedang online: 1
  • Pengunjung Hari ini: 1138
  • Today Visitor: 322
  • Total Visitor: 24316
  Online Staff