STRANGER PEMBAWA HIDAYAH

salsa

STRANGER PEMBAWA HIDAYAH

OLEH: Salsabila Amanda Dewi/9D


Banyak sekolah yang bagus di Indonesia.Hanya saja, apakah sekolah itu islami atau tidak. Hal inilah yang mendorong ibu saya untuk memondokkan saya. Selain karena ingin mandiri dan menjadi anak yang menghafal Al-Quran, orang tua khawatir akan kondisi non-pondok yang bebas dan keagamaan yang belum cukup kuat. Apalagi dengan keadaan tinggal di Bali, dimana sekolah-sekolah negeri tidak mengizinkan pemakaian jilbab dan pengizinan untuk sholat ketika KBM.

Awalnya memang tidak mudah bagi saya  menghadapi keadaan yang di tompang seorang diri.Tanpa pembanttu, tanpa netbook dan modem kesayangan. Teringat saat kelas 7, kami yang masih lugu nan polos ini harus mencuci bajunya sendiri. Hasilnya? Tentu saja keesokan harinya, seluruh baju di jemuran kamar berbau apek.

Saat pulang kembali, semuanya telah berbeda. Mungkin karena busana dan juga pergaulan di pondok yang serba terjaga. Pernah saat tak sengaja bertemu seorang kawan di sekolah dulu, ia berkata pada saya,”kok bajumu kayak ustadzah gitu? Nggak jaman, deh. ”Tak hanya itu, bahkan dari pihak keluarga ada yang menentang saya berpakaian syar’i, salah satunya nenek. Beliau berkata kepada saya,”Udalah, nanti kalau sudah keluar dan lulus, ganti busana ibu-ibumu itu seperti anak muda zaman sekarang.”Spontan saya menolak dan berkata bahwa gamis dan kerudung lebar saya yang saya pakai juga perintah dari Allah. Namun nenek tetap menjawab,”Halah, kamu masih muda sudah mikirin begituan. Tiru tantemu, menikmati hidup begitu, lho.” Astaghfirullah…

Kejadian paling pahit adalah ketika idul fitri. Kala itu, saya dipakasa untuk menyalami seorang sepupu laki-laki. Namun, saya tidak mau dan langsung berlari ke kamar. Dari dalam kamar, saya mendengar omelan dari nenek,”sudah lelah aku sama dia. Pasti di pondoknya dia di doktrin. Buktinya kolot banget dia sekarang.”Entah ada apa, saya menangis dan merasa aneh dalam keluarga saya sendiri, Karena itu, saya sering merindukan pondok.

Namun yang saya pikirkan tak sepenuhnya benar.

Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya dan orang tua saya untuk umroh bersama. Saat tengah menuggu azan berkumadang, saya meyetorkan hafalah surat Al-Mulk dan al-Qalam. Saat selesai menyetor, seorang wanita bercadar mendatangi kami. Tiba-tiba ia berkata,”good.”Ternyata beliau menilai hafalan saya.Wanita dari Kairo itu sempat mengatakan terkesan dengan hafalan saya, membuat saya dan ibu senang.

Entah apa yang merasuki ibu saya, sepulang dari tanah suci ibu mulai memakai kerudung yang lebar seperti saya. Meski belum total, belum sepanjang saya, tetapi melihat ini sudah membuat saya lega. Selain itu, ibu juga mendukung tahfidz Quran saya. Bahkan sempat mengunduh makalah berisi  cara menghafal quran untuk saya. Juga ketika saya dan nenek berdebat soal busana dan pergaulan, ibu berada di pihak saya.

Sebagai seorang santri, saya juga sudah mengeanal lebih dalam alasan saya disini. Yakni mempelajari dan mengamalkan ilmu agama, lalu, menularakannya’ pada keluarga dan orang lain sebagai hidayah, dan memutar jalan mereka ke jalan yang benar. Jika ada yang menolak, ingatlah bahwa Allah selalu menilai apapun usaha saya.