Teknologi: Berkah atau Musibah?

Adnan Ya’qub, S.Pd (Social Science teacher)

 

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia berupaya untuk memudahkan segala aktifitas kehidupannya dengan perangkat teknologi. Salah satu tujuan dikembangkannya perangkat tersebut adalah untuk memudahkan manusia mengakses berbagai informasi yang terjadi diberbagai belahan dunia.

 

Sejarah kemajuan teknologi dan informasi dimulai sejak ditemukannya internet, dimulai pada tahun 1969 ketika departemen  pertahanan Amerika mengadakan riset tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah computer sehingga membentuk jaringan organic. Tahun 1990 adalah tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer yang lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program inilah yang disebut www, atau World Wide Web. Tahun 1992, komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta komputer, dan di tahun yang sama muncul istilah surfing the internet. Tahun 1994, situs internet telah tumbuh menjadi 3000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Dari sinilah dunia langsung berubah.

 

Keberadaan Internet sebagai media informasi dan komunikasi telah menyebabkan perubahan yang sangat signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Jarak dan ruang seolah-olah tiada artinya lagi dengan keberadaan internet, sehingga muncul sebuah ungkapan “internet semakin mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”. Ungkapan ini muncul sebagai reaksi dari bentuk komunikasi modern dimana manusia lebih cenderung aktif dalam dunia maya dari pada bersosialisasi langsung dengan lingkungannya.

 

Jika hal ini dibiarkan maka bukan tidak mungkin suatu saat nanti gagap sosial (Gapsos) akan melekat pada generasi muda. Belum lagi kebebasan akses internet yang menyebabkan para generasi muda semakin terbiasa dengan website yang tidak seharusnya diakses, misalnya pornografi, bacaan berbasis sekularisme dan liberalism. Lebih parah lagi ketika kondisi tersebut semakin tidak terkontrol baik oleh lingkungan keluarga, sekolah maupun pemerintah. Tidak mengherankan apabila ditemukannya fakta bahwa di Surabaya kurang lebih 97% dari pelajar jenjang SMA putra pernah melihat konten berbau pornografi dan 92% bagi pelajar putri (TEMPO.CO Surabaya). Bahkan beberapa hasil survey menyatakan bahwa perkembangan internet sampai ke daerah-daerah pelosok menyebabkan hancurnya moralitas dan budaya masyarakat setempat.

 

Benteng utama untuk mencegah hancurnya moralitas generasi masa depan adalah peran aktif seorang guru dalam membimbing dan mengarahkan anak didiknya sebagai generasi  bermoral dan beradab. Pada tahun 2003, pemerintah Indonesia telah menerbitkan UU nomor 20 tahun 2003 sebagai landasan pelaksanaan pendidikan karakter disekolah. Dengan undang-undang ini, sistem pendidikan di Indonesia diharapkan akan mampu mengedepankan nilai-nilai karakter (character building) dalam setiap aspek pembelajaran. Ironisnya pendidikan berkarakter yang digembor-gemborkan oleh pemerintah melalui departemen pendidikan dan jajarannya seperti angin yang datang dan berlalu dengan cepat dimana hempasan pengaruh negative globalisasi dan kemajuan teknologi dan informasi lebih kuat mencengkram perkembangan pola fikir generasi pemuda saat ini. Sehingga  pendidikan karakter yang diterima anak didik di sekolah hanya sekedar teori dan aturan-aturan yang bersifat normatif yang belum memunculkan nilai-nilai luhur sesungguhnya.

 

Berkaitan dengan persoalan diatas, konsep pendidikan Islam merupakan jawaban dan solusi nyata. Dengan berpegang pada prinsip pendidikan Islam, sistem pendidikan di Indonesia akan mampu mengintegrasikan nilai-nilai kepribadian yang lebih menyentuh jiwa (Islamic Values) yang tidak hanya bersifat normatif sehingga mampu menjadi sebuah landasan hidup yang kuat dimasa sekarang dan masa yang akan datang. Telah tertulis dalam sejarah dunia bahwa Islam telah menjadi bagian dari sistem pendidikan pembentuk karakter yang mampu mengukir generasi yang hebat dan mulia.  Sehingga sudah semestinya seorang pendidik/guru mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman sebagai bagian penting dalam kegiatan pembelajaran yang mampu menjadi benteng dan filter bagi arus kemajuan teknologi dan informasi yang semakin mengikis moralitas generasi muda saat ini. Jika hal ini bisa dilakukan maka kemajuan teknologi dan informasi akan menjadi berkah dalam menunjang kegiatan pembelajaran bagi generasi muda. Sehingga tinggal satu pertanyaan yang harus diselesaikan yaitu sudahkah para pendidik menintegrasikan nilai-nilai keIslaman  dalam berinteraksi dengan anak didiknya?