
Syekh Prof. Mohammed Hamad M. Al-Manee’a beri Kuliah Kelas Madinah: Rahasia Keutamaan Menghafal Al-Qur’an Terungkap!
Suasana Kelas Madinah di Mahad Al Izzah Batu menjadi hikmad begitu Syekh Prof. Mohammed Hamad M. Al-Manee’a, ulama terkemuka sekaligus Guru Besar Universitas King Saud, memasuki ruangan. Santri yang memenuhi kelas seketika hening—seolah mengetahui bahwa mereka akan menyimak ilmu yang sangat berharga dari seorang ahli Qur’an berskala internasional.

Pada kuliah tamu istimewa tersebut, Syekh Al-Manee’a menyampaikan materi bertema “Keutamaan Menghafal dan Mempelajari Al-Qur’an”, yang membuat para santri seolah tersedot ke dalam atmosfer spiritual yang menggetarkan.
“Para Penghafal Qur’an adalah Keluarga Allah dan Orang-Orang Istimewa di Dunia dan Akhirat”
Syekh Al-Manee’a membuka sesi dengan penegasan yang membuat banyak santri tertegun:
“Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dari kedekatan seorang hamba dengan Al-Qur’an. Para penghafalnya adalah Ahlullah—keluarga Allah di muka bumi.”

Beliau kemudian menjelaskan bahwa setiap ayat yang dihafal bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cahaya yang mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah dan manusia.
Motivasi yang Membakar Semangat Santri
Dalam penjelasannya, beliau menekankan tiga poin penting:
- Menghafal Al-Qur’an adalah ibadah sepanjang hayat.
Setiap huruf yang diulang menambah pahala dan mengalirkan keberkahan tanpa henti. - Mempelajari Al-Qur’an berarti membuka pintu-pintu hikmah.
“Siapa yang hidup bersama Al-Qur’an, hatinya tidak akan pernah kosong dari petunjuk,” tutur Syekh. - Penghafal Qur’an membawa misi dakwah.
Mereka adalah penjaga kalam ilahi, pembawa cahaya di tengah umat, dan generasi yang akan memperbaiki peradaban. - Al Quran menjaga dari keburukan dan memuliakan orang yang dalam dirinya ada Al Qur’an
- Saat penghafal Al-Qur’an masuk surga, akan dikatakan kepadanya, “Bacalah dan naiklah!” Kemudian ia membaca dan naik bersama setiap ayat sampai membaca ayat terakhir yang ia hafal

Para santri tampak antusias, mencatat setiap kalimat, dan mengajukan pertanyaan penuh rasa ingin tahu—mencerminkan betapa besar rasa hormat mereka kepada sosok ulama yang telah melanglang buana dalam dunia keilmuan Islam ini.
Momen Spiritual yang Tak Terlupakan
Sesi ditutup dengan doa dan nasihat yang membuat banyak santri haru. Syekh Al-Manee’a mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup, bukan hanya hafalan yang menempel di lisan, tetapi juga akhlak yang tertanam di hati.
Kehadiran beliau meninggalkan kesan mendalam. Para santri Kelas Madinah mengaku termotivasi untuk meningkatkan hafalan, memperdalam pemahaman, serta memperbaiki akhlak sebagai penjaga Al-Qur’an.

Setelah memberikan materi khusus kepada Kelas Madinah, Syekh Prof. Mohammed Hamad M. Al-Manee’a melanjutkan dengan kuliah umum yang dihadiri oleh seluruh santri Mahad Al Izzah Batu. Aula utama penuh sesak, namun kesunyian nyaris total—semua mata tertuju kepada ulama besar yang dikenal memiliki keluasan ilmu dan kelembutan akhlak.
Dalam kesempatan ini, Syekh Al-Manee’a menyampaikan tiga pilar penting yang harus dimiliki setiap penuntut ilmu.
1. Menuntut Ilmu adalah Jalan Menuju Kemuliaan
Beliau menegaskan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar kewajiban, tetapi adalah jalan kemuliaan yang Allah buka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh.
“Ilmu adalah cahaya. Dan Allah tidak akan memberikan cahaya-Nya pada hati yang malas atau tidak bersungguh-sungguh,” ujar beliau.
Syekh menekankan bahwa seorang santri harus memiliki tujuan yang benar, disiplin waktu, dan kesabaran yang kuat. Tanpa hal itu, ilmu hanya menjadi informasi, bukan petunjuk hidup.
2. Menghormati Guru Adalah Kunci Keberkahan Ilmu
Pada bagian ini, suasana berubah menjadi reflektif. Syekh Al-Manee’a menyampaikan bahwa kehormatan seorang murid terletak pada bagaimana ia memuliakan gurunya.
“Siapa yang merendahkan gurunya, maka ia telah menutup pintu keberkahan dari dirinya sendiri.”
Beliau menjelaskan bahwa para ulama klasik tidak pernah meraih kedudukan tinggi kecuali karena adab mereka kepada guru. Mulai dari cara berbicara, duduk ketika belajar, hingga ketundukan hati dalam menerima nasihat.
Santri tampak mengangguk penuh kesadaran, menyadari bahwa adab bukan pelengkap—melainkan inti dari perjalanan ilmu.

3. Penguatan Iman: Pondasi Setiap Langkah Santri
Syekh Al-Manee’a mengakhiri kuliah umum dengan pesan mendalam tentang pentingnya memperkuat iman, sebab iman adalah penopang akhlak, ilmu, dan semua amal manusia.
“Iman itu naik dan turun. Maka tugas seorang santri adalah selalu menjaganya dengan dzikir, shalat, membaca Al-Qur’an, dan menjauhi dosa—sekecil apa pun,” ungkap beliau.
Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa iman akan menyesatkan, dan hafalan tanpa ketakwaan hanya akan menjadi beban di hari kiamat.
Santri kembali dengan Semangat Baru
Kuliah umum ini menjadi momen yang sangat berkesan. Banyak santri menyebut ceramah Syekh Al-Manee’a sebagai “penyegar jiwa” di tengah padatnya kegiatan pembelajaran. Mereka mengaku seperti mendapatkan kompas baru untuk menata niat, memperbaiki adab, dan memperkokoh iman.

Kehadiran Syekh Prof. Mohammed Hamad M. Al-Manee’a bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual yang mengubah cara pandang santri tentang ilmu dan kehidupan.



